• Jelajahi

    Copyright © WAKATA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Contoh Makalah Wisata dan Education Anak Usia Dini (PAUD) 2015

    Sabtu, 04 Oktober 2014, 13.03 WIB Last Updated 2015-01-07T19:05:34Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    BAB I
    PENDAHULUAN
    A.      Latar Belakang
    Saat ini kawasan hutan di Indonesia meliputi areal kurang lebih seluas 136,88 juta hektar, termasuk kawasan konservasi perairan. Hutan mempunyai fungsi sebagai penyangga kehidupan dan pengatur keseimbangan ekosistem serta sebagai sumber keanekaragaman hayati. Indonesia yang memiliki hutan dengan kekayaan mega biodiversity (keanekaragaman hayati) merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Kekayaan keanekaragaman hayati tersebut merupakan penghuni kawasan-kawasan yang memiliki relung ekologis spesifik pada berbagai tipe ekosistem. Luasan hutan Indonesia mengalami kemerosotan yang tajam dari tahun ke tahun baik sebagai akibat dari eksploitasi maupun konversi fungsi alih kawasan dari fungsi hutan menjadi kawasan pemukiman dan perkebunan seperti kelapa sawit.
    Pada kondisi makin meningkatnya deforestrasi dan degradasi hutan, maka budaya menanam merupakan sesuatu kebutuhan dalam upaya mencegah deforestrasi dan degradasi hutan, serta memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Berbagai cara, berbagai upaya dan berbagai program telah diluncurkan namun hasilnya belum memuaskan Mulai dari program Tanam Satu Juta Pohon, Satu Milyar Pohon, mungkin nanti Satu Triliun Pohon. Indikasi ini dapat terlihat dari deforestrasi dan degradasi hutan masih saja tetap terjadi.Ini karena pola pikir dan mindset sebagain masyarakat dan pemangku jabatan bahwa hutan adalah lahan emas yang bisa diokupasi kapan saja, bukan merupakan warisan untuk anak-cucu kita kelak.
    Pada enam tahun silam diluncurkan salah satu program yang mengarah kepada menumbuhkan budaya menanam. Program ini yakni Program Kecil Menanam Dewasa Memanen (Program KMDM). KMDM merupakan salah satu program pada Kementrian Kehutanan d/h Departemen Kehutanan dalam memperbaiki hutan yang ada di Indonesia. Dalam program KMDM lebih ditekankan pada edukasi karena sasarannya adalah anak-anak usia dini.
    Tujuan program ini adalah untuk memberikan pendidikan pentingnya menanam pohon untuk perbaikan kualitas lingkungan hidup sejak usia dini, agar mereka gemar menanam, memelihara, dan memanfaatkan hasilnya, serta mencintai alam dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu dalam kegiatan KMDM ini yang lebih diutamakan adalah tumbuhnya minat menanam pohon dan cinta lingkungan sejak usia dini, bukan pada jumlah pohon yang ditanam.
    B.       Rumusan Masalah
    1.      Apa definisi dari pembelajaran ?
    2.      Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran berdasarkan minat ?
    3.      Apa saja tahap atau langkah pembelajaran berdasarkan minat ?
    4.      Bagaimana langkah-langkah bermain bercocok tanam /
    5.      Apa tujuan dan manfaat dari kegiatan bercocok tanam ?
    6.      Bagaimana apresiasi penulis mengenai bercock tanam ?
    C.       Tujuan
    1.      Apa definisi dari pembelajaran ?
    2.      Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran berdasarkan minat ?
    3.      Apa saja tahap atau langkah pembelajaran berdasarkan minat ?
    4.      Bagaimana langkah-langkah bermain bercocok tanam /
    5.      Apa tujuan dan manfaat dari kegiatan bercocok tanam ?
    6.      Bagaimana apresiasi penulis mengenai bercock tanam ?











    BAB II
    PEMBAHASAN
    A.      Definisi Pembelajaran
    Pembelajaran untuk anak usia dini memegang peranan yang sangat penting bagi pembentukan kemampuan dan sikap belajar pada tahap yang lebih lanjut. Dalam suatu pembelajaran peran guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi fasilitas belajar (directing and facilitating the learning) agar proses belajar lebih memadai. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mohammad Ali (2007) bahwa pembelajaran adalah upaya yang dilakukan guru dalam merekayasa lingkungan agar terjadi belajar pada individu siswa.
    Konsep pembelajaran menurut Corey (Sagala, 2003) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono ”pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar” (Sagala, 2003).
    Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 menyatakan bahwa, ”pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.  Pembelajaran menurut Sudjana (2000) adalah upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Surya (2004) menyatakan bahwa, pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Definisi tersebut menunjukan bahwa pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku dalam diri individunya.
    Selanjutnya Sudjana menjelaskan bahwa pembelajaran adalah fungsi pendidik untuk membelajarkan peserta didik terhadap materi pelajaran untuk mencapai hasil belajar yang menimbulkan pengaruh belajar. Definisi pembelajaran tersebut mengandung berbagai fungsi seperti membantu, membimbing, melatih, memelihara, merawat, menumbuhkan, mendorong, membentuk, meluruskan, menilai, dan mengembangkan. Fungsi-fungsi pembelajaran ini dilakukan oleh dan menjadi tanggung jawab pendidik yaitu guru, pamong belajar, pelatih, sehingga peserta didik dapat melakukan perubahan dalam dirinya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan pendidikan.     
    Pengertian pembelajaran di atas, mengandung makna yang menggambarkan interaksi dinamis antar unsur-unsur yang terlibat dalam pembelajaran yaitu pendidik, peserta didik, materi, proses, keluaran dan pengaruh kegiatan pembelajaran.
    Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mencakup kegiatan belajar dan mengajar. Kegiatan pembelajaran dilakukan berdasarkan rencana yang terorganisir secara sistematis yang mencakup tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran yang mencakup metode dan media pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan umpan balik evaluasi pembelajaran.
    Suatu rencana pembelajaran dan pelaksanaannya perlu memperhatikan hal-hal yang terkait dengan belajar bagaimana belajar (learning to learn), belajar bagaimana berfikir (learning how to think), belajar bagaimana melakukan (learning how to do), dan belajar bagaimana bekerja sama dan hidup bersama (learning how to live together).
    Sejalan dengan perkembangan anak usia dini, maka pembelajaran perlu menekankan keempat aspek tersebut di atas. Oleh sebab itu maka pembelajaran yang direncanakan dan dilaksanakan dilakukan dalam bentuk kegiatan bermain. Pembelajaran disusun sehingga menyenangkan, menggembirakan, dan demokratis agar menarik anak untuk terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. Anak tidak hanya duduk tenang mendengarkan ceramah gurunya, tetapi mereka aktif berinteraksi dengan berbagai benda dan orang lain di lingkungannya, baik secara fisik maupun mental.
    B.       Model Pembelajaran Berdasarkan Minat
    Model pembelajaran berdasarkan minat adalah model pembelajaran yangmemberi kesempatan kepada anak didik untuk memilih atau melakukan kegiatansendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajaran berdasarkan minat dirancang untukmemenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak.
    Prinsipnya, dalam metode pembelajaran berdasarkan minat mengutamakan, pengalaman belajar bagi setiap anak secara individual, membantu anak untuk membuat pilihan-pilihan melalui kegiatan dan pusatpusat kegiatan melibatkan peran serta keluarga. Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan minat dapat menggunakan beberapa area antara lain: area agama, balok, bahasa, drama, berhitung/matematika, sains, seni/motorik, musik, membaca dan menulis. Dalam satu hari dapat dibuka satu area bermain dengan 4-5 kegiatan bermain.
    C.       Tahap atau langkah pembelajaran berdasarkan minat:
    1.      Guru memberikan penjelasan kegiatan-kegiatan di dalam area yang diprogramkan beserta jumlah anak yang boleh bermain di area tersebut, misalnya alam terdiri dari kegiatan bermain pasir, bermain air berwarna, bermain mengocok air sabun, bermain bercocok tanam. Guru menyiapkan entri tiketsebanyak jumlah anak sesuai daya tampung sentra, misalnya area alam ini hanya menampung 6 anak,  maka guru hanya menyiapkan 6 tiket sebagai tanda masuk. Anak yang sudah menyelesaikan kegiatan di area alam dapat berpindah area dengan mengembalikan tiket di pintu masuk area agar dapat digunakan anak selanjutnya.
    2.      Guru membagi jumlah anak di setiap kegiatan bermain. Pembagian bertujuan agar seluruh anak mengalami pengalaman main yang direncanakan hari itu.
    3.      Guru memberikan kesempatan anak untuk bebas memilih kegiatan sesuai dengan minatnya. Pilihan yang diberikan tidak jauh dari area yang telah disiapkan agar pembelajaran lebih terarah.
    4.      Anak dapat berpindah kegiatan sesuai dengan minatnya jika ada tempat kosong di kegiatan tersebut.
    5.      Guru mencatat setiap kegiatan yang dilakukan peserta didik sebagai proses pemantauan tumbuh kembang anak.
    6.      Apabila ada peserta didik yang tidak mau melakukan kegiatan di semua kegiatan yang diprogramkan, maka guru dapat memotivasi anak agar mau mencoba bermain bersama temannya.
    7.      Guru melakukan evaluasi pembelajaran bersama peserta didik.
    8.      Guru memberikan pengakuan dan penguatan terhadap usaha yang telah dilakukan anak.
    D.      Langkah-langkah Bermain bercocok tanam
    Bermain bercocok tanam dapat kita aplikasikan diantaranya dalam tema tanaman. Adapun langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
    1.        Guru menjelaskan terlebih dahulu bahwa kegiatan pada hari itu berkaitan atau berhubungan dengan pohon tomat sesuai dengan tema hari itu yaitu tanaman dan semu peserta didik akan dilibatkan untuk menanam benih tomat
    2.        Guru menanyakan kepada peserta didik tentang pengetahuannya mengenai tomat, apakah pernah melihatnya atau memakannya, menanyakan warnanya dan lain-lain
    3.        Guru dapat menggunakan media kertas bergambar bagian-bagian pohon tomat untuk lebih memberikan pemahaman kepada anak terlebih dahulu
    4.        Guru mengajak peserta didik untuk menempel gambar bagian-bagian pohon tomat, antara lain batang, akar, daun dan buah tomat. Selain komponen tanaman tomat, peserta didik juga dapat diajak menempel gambar skop, alat penyiram, pupuk dan matahari.
    5.        Guru menyiapkan peralatan untuk menanam benih tomat, diantaranya pot berisi tanah, benih atau bibit tomat, alat penyiram, pupuk dan skop kecil
    6.        Memposisikan anak di tempat yang nyaman dan tidak mengganggu kenyamanan antara temannya yang lain
    7.        Setiap anak diberikan bibit tomat dan disediakan pupuk
    8.        Setelah selasai guru memberikan contoh untuk menyiram bibit tomat dalam pot
    9.        Guru juga mengajak peserta didiknya untuk memberikan nama pada masing-masing pot, anak tidak hanya menanam tetapi juga diberi tanggung jawab untuk memeliharanya, menyiramnya serta memupuknya secara teratur, sehingga anak dapat menikmati sendiri hasil dari tanamannya sendiri
    10.    Guru dan peserta didik bersama-sama membereskan kembali alat-alat bekas pakai
    Setelah kegiatan bercocok tanam yang dilakukan di luar ruangan (outdoor), guru dapat menanyakan kembali perasaan peserta didik mengenai pengalamannya bercocok tanam.


    E.       Tujuan dan Manfaat dari Kegiatan Bercocok Tanam
    1.         Kegiatan yang melibatkan peserta didik ini dapat menjadi salah satu cara untuk menambah pengetahuan anak tentang gizi.
    2.         Mengandung nilai sains terutama bagi pengembangan psikomotorik anak yaitu motorik kasar yang akan berkontribusi positif terhadap pembentukan kognitif dan afektif anak dalam pengenalan dan penguasaan sains
    3.         Salah satu stimulasi untuk meningkatkan kecerdasan naturalis (naturalist intelligence) yaitu mencintai keindahan alam.
    4.         Menumbuhkan rasa kecintaan  siswa/pelajar sebagai generasi muda untuk melestarikan tanaman untuk menjaga keanekaragaman hayati yang ada.
    5.         Menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan kepada anak-anak usia dini serta bertanggungjawab dalam hal menjaga dan merawat apa yang telah mereka tanam sehingga bermanfaat bagi mereka maupun orang lain.
    F.        Persepsi Penulis
    Ada dua alasan penting bermain outdoor diperuntukkan untuk anak-anak usia dini. Pertama, banyak kemampuan anak yang harus dikembangkan dan didapatkan oleh anak. Kedua, kebiasaan orang tua yang menjauhkan area bermain dari anak-anak karena berbagai faktor dan lebih memilih memberikan anak-anak tontonan atau bermain komputer selain itu faktor lingkungan yang tidak aman membuat orang tua menjauhkan anak mereka untuk bermain di luar.
    Peran guru sebagai fasilitator dalam pelaksanaan pendidikan untuk anak usia dini harus mampu memberikan kemudahan kepada anak untuk mempelajari berbagai hal yang terdapat dalam lingkungannya.Seperti kita ketahui bahwa anak usia dini memiliki rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu serta memiliki sikap berpetualang serta minat yang kuat untuk mengobservasi lingkungan. Ia memiliki sikap petualang yang kuat.
    Pengenalan terhadap lingkungan di sekitarnya merupakan pengalaman yang positif untuk mengmbangkan minat keilmuan anak usia dini. Dengan melibatkan anak menanam pohon diharapkan dapat menstimulasi anak agar lebih peduli akan lingkungan dengan disajikan dengan cara yang sangat menyenangkan, sehingga tanpa terasa siswa belajar mengenal lingkungan sambil bermain. Ada banyak program dan permainan menarik yang pasti akan disukai anak-anak. Selain dapat berinteraksi langsung dengan flora, anak juga akan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan serta meningkatkan perkembangan kognitifnya.
    Jika lahan sekolah yang terbatas dan sulit untuk memanfaatkan alternative pot, anak bisa diajak untuk berkarya wisata ke lingkungan sekitar. Selain itu, banyaknya wisata-wisata alam yang telah tersedia saat ini juga dapat menjadi alternative lain untuk menumbuhkan rasa kecintaan anak untuk bercocok tanam.
    Kegiatan bercocok tanam merupakan hal yang sangat menyenangkan untuk anak. Ada banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan dengan menggunakan pembelajaran bercocok tanam ini. Aspek-aspek perkembangan anak khususnya dapat kita stimulus dengan kegiatan ini. Biasanya anakpun akan merasa kerasan dengan kegiatan bercocok tanam karena dilakukan anak dengan bermain. Sebagaimana yang sudah banyak disebutkan bahwa diantara kebutuhan anak usia dini adalah bermain.

    BAB III
    PENUTUP
    A.      Kesimpulan
    Pembelajaran untuk anak usia dini memegang peranan yang sangat penting bagi pembentukan kemampuan dan sikap belajar pada tahap yang lebih lanjut. Dalam suatu pembelajaran peran guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi fasilitas belajar (directing and facilitating the learning) agar proses belajar lebih memadai. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mohammad Ali (2007) bahwa pembelajaran adalah upaya yang dilakukan guru dalam merekayasa lingkungan agar terjadi belajar pada individu siswa.
    Adapun pembelajaran itu sendiri harus mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya minat anak yaitu bercocok tanam. Pembelajaran in dapat menggunakan strategi pembelajaran berdasarkan area ataupun sentra.
    B.       Saran
    Sebagai seorang guru, sudah sepatutnya kita memberikan hak anak. Diantaranya hak bermain. Pendidikan anak usia dini memilki prinsip diantaranya belajar melalui bermain dan bermain sambil belajar. Berbagai media dan alat main saat ini sudah banyak yang guru bisa gunakan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Akan tetapi, guru juga tidak boleh mengesampingkan kegiatan outdoor yang tidak kalah penting dalm membantu meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak, diantaranya yaitu kegiatan bercocok tanam.

















    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    NamaLabel

    +