masukkan script iklan disini
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Saat ini kawasan hutan di Indonesia
meliputi areal kurang lebih seluas 136,88 juta hektar, termasuk kawasan
konservasi perairan. Hutan mempunyai fungsi sebagai penyangga kehidupan dan
pengatur keseimbangan ekosistem serta sebagai sumber keanekaragaman hayati.
Indonesia yang memiliki hutan dengan kekayaan mega biodiversity (keanekaragaman
hayati) merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Kekayaan
keanekaragaman hayati tersebut merupakan penghuni kawasan-kawasan yang memiliki
relung ekologis spesifik pada berbagai tipe ekosistem. Luasan hutan Indonesia
mengalami kemerosotan yang tajam dari tahun ke tahun baik sebagai akibat dari
eksploitasi maupun konversi fungsi alih kawasan dari fungsi hutan menjadi kawasan
pemukiman dan perkebunan seperti kelapa sawit.
Pada kondisi makin meningkatnya
deforestrasi dan degradasi hutan, maka budaya menanam merupakan sesuatu
kebutuhan dalam upaya mencegah deforestrasi dan degradasi hutan, serta
memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Berbagai cara, berbagai upaya dan
berbagai program telah diluncurkan namun hasilnya belum memuaskan Mulai dari
program Tanam Satu Juta Pohon, Satu Milyar Pohon, mungkin nanti Satu Triliun
Pohon. Indikasi ini dapat terlihat dari deforestrasi dan degradasi hutan masih
saja tetap terjadi.Ini karena pola pikir dan mindset sebagain masyarakat dan
pemangku jabatan bahwa hutan adalah lahan emas yang bisa diokupasi kapan saja,
bukan merupakan warisan untuk anak-cucu kita kelak.
Pada enam tahun silam diluncurkan salah
satu program yang mengarah kepada menumbuhkan budaya menanam. Program ini yakni
Program Kecil Menanam Dewasa Memanen (Program KMDM). KMDM merupakan salah satu
program pada Kementrian Kehutanan d/h Departemen Kehutanan dalam memperbaiki
hutan yang ada di Indonesia. Dalam program KMDM lebih ditekankan pada edukasi
karena sasarannya adalah anak-anak usia dini.
Tujuan program ini adalah untuk
memberikan pendidikan pentingnya menanam pohon untuk perbaikan kualitas
lingkungan hidup sejak usia dini, agar mereka gemar menanam, memelihara, dan
memanfaatkan hasilnya, serta mencintai alam dan lingkungan sekitarnya. Oleh
karena itu dalam kegiatan KMDM ini yang lebih diutamakan adalah tumbuhnya minat
menanam pohon dan cinta lingkungan sejak usia dini, bukan pada jumlah pohon
yang ditanam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari pembelajaran ?
2. Apa yang dimaksud dengan model
pembelajaran berdasarkan minat ?
3. Apa saja tahap atau langkah
pembelajaran berdasarkan minat ?
4. Bagaimana langkah-langkah bermain
bercocok tanam /
5. Apa tujuan dan manfaat dari kegiatan
bercocok tanam ?
6. Bagaimana apresiasi penulis mengenai
bercock tanam ?
C. Tujuan
1. Apa definisi dari pembelajaran ?
2. Apa yang dimaksud dengan model
pembelajaran berdasarkan minat ?
3. Apa saja tahap atau langkah
pembelajaran berdasarkan minat ?
4. Bagaimana langkah-langkah bermain
bercocok tanam /
5. Apa tujuan dan manfaat dari kegiatan
bercocok tanam ?
6. Bagaimana apresiasi penulis mengenai
bercock tanam ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Pembelajaran
Pembelajaran untuk anak usia dini
memegang peranan yang sangat penting bagi pembentukan kemampuan dan sikap
belajar pada tahap yang lebih lanjut. Dalam suatu pembelajaran peran guru bukan
semata-mata memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi
fasilitas belajar (directing and facilitating the learning) agar proses
belajar lebih memadai. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mohammad Ali (2007)
bahwa pembelajaran adalah upaya yang dilakukan guru dalam merekayasa lingkungan
agar terjadi belajar pada individu siswa.
Konsep pembelajaran menurut Corey
(Sagala, 2003) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja
dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam
kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu,
pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Sedangkan menurut Dimyati
dan Mudjiono ”pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain
instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada
penyediaan sumber belajar” (Sagala, 2003).
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 menyatakan bahwa, ”pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar”. Pembelajaran menurut Sudjana (2000) adalah
upaya pendidik untuk membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Surya
(2004) menyatakan bahwa, pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh
individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya. Definisi tersebut menunjukan bahwa pembelajaran sebagai
usaha memperoleh perubahan perilaku dalam diri individunya.
Selanjutnya Sudjana menjelaskan bahwa
pembelajaran adalah fungsi pendidik untuk membelajarkan peserta didik terhadap
materi pelajaran untuk mencapai hasil belajar yang menimbulkan pengaruh
belajar. Definisi pembelajaran tersebut mengandung berbagai fungsi seperti
membantu, membimbing, melatih, memelihara, merawat, menumbuhkan, mendorong,
membentuk, meluruskan, menilai, dan mengembangkan. Fungsi-fungsi pembelajaran
ini dilakukan oleh dan menjadi tanggung jawab pendidik yaitu guru, pamong
belajar, pelatih, sehingga peserta didik dapat melakukan perubahan dalam
dirinya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang merupakan bagian dari tujuan
pendidikan.
Pengertian pembelajaran di atas,
mengandung makna yang menggambarkan interaksi dinamis antar unsur-unsur yang
terlibat dalam pembelajaran yaitu pendidik, peserta didik, materi, proses,
keluaran dan pengaruh kegiatan pembelajaran.
Dari beberapa pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mencakup kegiatan
belajar dan mengajar. Kegiatan pembelajaran dilakukan berdasarkan rencana yang
terorganisir secara sistematis yang mencakup tujuan pembelajaran, materi
pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran yang mencakup metode dan media
pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan umpan balik evaluasi pembelajaran.
Suatu rencana pembelajaran dan
pelaksanaannya perlu memperhatikan hal-hal yang terkait dengan belajar
bagaimana belajar (learning to learn), belajar bagaimana berfikir (learning
how to think), belajar bagaimana melakukan (learning how to do), dan
belajar bagaimana bekerja sama dan hidup bersama (learning how to live
together).
Sejalan dengan perkembangan anak usia
dini, maka pembelajaran perlu menekankan keempat aspek tersebut di atas. Oleh
sebab itu maka pembelajaran yang direncanakan dan dilaksanakan dilakukan dalam
bentuk kegiatan bermain. Pembelajaran disusun sehingga menyenangkan,
menggembirakan, dan demokratis agar menarik anak untuk terlibat dalam setiap
kegiatan pembelajaran. Anak tidak hanya duduk tenang mendengarkan ceramah
gurunya, tetapi mereka aktif berinteraksi dengan berbagai benda dan orang lain
di lingkungannya, baik secara fisik maupun mental.
B.
Model Pembelajaran Berdasarkan Minat
Model pembelajaran berdasarkan minat
adalah model pembelajaran yangmemberi kesempatan kepada anak didik untuk
memilih atau melakukan kegiatansendiri sesuai dengan minatnya. Pembelajaran
berdasarkan minat dirancang untukmemenuhi kebutuhan-kebutuhan spesifik anak.
Prinsipnya, dalam metode pembelajaran
berdasarkan minat mengutamakan, pengalaman belajar bagi setiap anak secara individual,
membantu anak untuk membuat pilihan-pilihan melalui kegiatan dan pusatpusat
kegiatan melibatkan peran serta keluarga. Pelaksanaan pembelajaran berdasarkan
minat dapat menggunakan beberapa area antara lain: area agama, balok, bahasa,
drama, berhitung/matematika, sains, seni/motorik, musik, membaca dan menulis.
Dalam satu hari dapat dibuka satu area bermain dengan 4-5 kegiatan bermain.
C. Tahap atau langkah pembelajaran
berdasarkan minat:
1. Guru memberikan penjelasan
kegiatan-kegiatan di dalam area yang diprogramkan beserta jumlah anak yang
boleh bermain di area tersebut, misalnya alam terdiri dari kegiatan bermain
pasir, bermain air berwarna, bermain mengocok air sabun, bermain bercocok
tanam. Guru menyiapkan entri tiketsebanyak jumlah anak sesuai daya tampung
sentra, misalnya area alam ini hanya menampung 6 anak, maka guru hanya
menyiapkan 6 tiket sebagai tanda masuk. Anak yang sudah menyelesaikan kegiatan
di area alam dapat berpindah area dengan mengembalikan tiket di pintu masuk
area agar dapat digunakan anak selanjutnya.
2. Guru membagi jumlah anak di setiap
kegiatan bermain. Pembagian bertujuan agar seluruh anak mengalami pengalaman
main yang direncanakan hari itu.
3. Guru memberikan kesempatan anak untuk
bebas memilih kegiatan sesuai dengan minatnya. Pilihan yang diberikan tidak
jauh dari area yang telah disiapkan agar pembelajaran lebih terarah.
4. Anak dapat berpindah kegiatan sesuai
dengan minatnya jika ada tempat kosong di kegiatan tersebut.
5. Guru mencatat setiap kegiatan yang
dilakukan peserta didik sebagai proses pemantauan tumbuh kembang anak.
6. Apabila ada peserta didik yang tidak
mau melakukan kegiatan di semua kegiatan yang diprogramkan, maka guru dapat
memotivasi anak agar mau mencoba bermain bersama temannya.
7. Guru melakukan evaluasi pembelajaran
bersama peserta didik.
8. Guru memberikan pengakuan dan penguatan
terhadap usaha yang telah dilakukan anak.
D. Langkah-langkah Bermain bercocok tanam
Bermain bercocok tanam dapat kita
aplikasikan diantaranya dalam tema tanaman. Adapun langkah-langkah
pembelajarannya sebagai berikut :
1.
Guru menjelaskan
terlebih dahulu bahwa kegiatan pada hari itu berkaitan atau berhubungan dengan
pohon tomat sesuai dengan tema hari itu yaitu tanaman dan semu peserta didik
akan dilibatkan untuk menanam benih tomat
2.
Guru menanyakan kepada
peserta didik tentang pengetahuannya mengenai tomat, apakah pernah melihatnya
atau memakannya, menanyakan warnanya dan lain-lain
3.
Guru dapat menggunakan
media kertas bergambar bagian-bagian pohon tomat untuk lebih memberikan
pemahaman kepada anak terlebih dahulu
4.
Guru mengajak peserta
didik untuk menempel gambar bagian-bagian pohon tomat, antara lain batang,
akar, daun dan buah tomat. Selain komponen tanaman tomat, peserta didik juga
dapat diajak menempel gambar skop, alat penyiram, pupuk dan matahari.
5.
Guru menyiapkan
peralatan untuk menanam benih tomat, diantaranya pot berisi tanah, benih atau
bibit tomat, alat penyiram, pupuk dan skop kecil
6.
Memposisikan anak di
tempat yang nyaman dan tidak mengganggu kenyamanan antara temannya yang lain
7.
Setiap anak diberikan
bibit tomat dan disediakan pupuk
8.
Setelah selasai guru
memberikan contoh untuk menyiram bibit tomat dalam pot
9.
Guru juga mengajak
peserta didiknya untuk memberikan nama pada masing-masing pot, anak tidak hanya menanam tetapi juga
diberi tanggung jawab untuk memeliharanya, menyiramnya serta memupuknya secara
teratur, sehingga anak dapat menikmati sendiri hasil dari tanamannya sendiri
10. Guru dan peserta didik bersama-sama
membereskan kembali alat-alat bekas pakai
Setelah kegiatan bercocok tanam
yang dilakukan di luar ruangan (outdoor), guru dapat menanyakan kembali
perasaan peserta didik mengenai pengalamannya bercocok tanam.
E. Tujuan dan Manfaat dari Kegiatan
Bercocok Tanam
1.
Kegiatan yang melibatkan peserta didik ini dapat menjadi
salah satu cara untuk menambah pengetahuan anak tentang gizi.
2.
Mengandung nilai sains terutama bagi pengembangan
psikomotorik anak yaitu motorik kasar yang akan berkontribusi positif terhadap
pembentukan kognitif dan afektif anak dalam pengenalan dan penguasaan sains
3.
Salah satu stimulasi untuk meningkatkan kecerdasan naturalis (naturalist intelligence)
yaitu mencintai keindahan alam.
4.
Menumbuhkan
rasa kecintaan siswa/pelajar sebagai generasi muda untuk melestarikan
tanaman untuk menjaga keanekaragaman hayati yang ada.
5.
Menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan kepada
anak-anak usia dini serta bertanggungjawab dalam hal menjaga dan merawat apa
yang telah mereka tanam sehingga bermanfaat bagi mereka maupun orang lain.
F.
Persepsi Penulis
Ada dua alasan penting bermain outdoor
diperuntukkan untuk anak-anak usia dini. Pertama, banyak kemampuan anak yang
harus dikembangkan dan didapatkan oleh anak. Kedua, kebiasaan orang tua yang
menjauhkan area bermain dari anak-anak karena berbagai faktor dan lebih memilih
memberikan anak-anak tontonan atau bermain komputer selain itu faktor
lingkungan yang tidak aman membuat orang tua menjauhkan anak mereka untuk
bermain di luar.
Peran
guru sebagai fasilitator dalam pelaksanaan pendidikan untuk anak usia dini
harus mampu memberikan kemudahan kepada anak untuk mempelajari berbagai hal
yang terdapat dalam lingkungannya.Seperti kita ketahui bahwa anak usia dini
memiliki rasa ingin tahu dan sikap antusias yang kuat terhadap segala sesuatu
serta memiliki sikap berpetualang serta minat yang kuat untuk mengobservasi
lingkungan. Ia memiliki sikap petualang yang kuat.
Pengenalan
terhadap lingkungan di sekitarnya merupakan pengalaman yang positif untuk
mengmbangkan minat keilmuan anak usia dini. Dengan melibatkan anak menanam
pohon diharapkan dapat menstimulasi anak agar lebih peduli akan lingkungan
dengan disajikan dengan cara yang sangat menyenangkan, sehingga tanpa terasa
siswa belajar mengenal lingkungan sambil bermain. Ada banyak program dan
permainan menarik yang pasti akan disukai anak-anak. Selain dapat berinteraksi
langsung dengan flora, anak juga akan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan
serta meningkatkan perkembangan kognitifnya.
Jika
lahan sekolah yang terbatas dan sulit untuk memanfaatkan alternative pot, anak
bisa diajak untuk berkarya wisata ke lingkungan sekitar. Selain itu, banyaknya
wisata-wisata alam yang telah tersedia saat ini juga dapat menjadi alternative
lain untuk menumbuhkan rasa kecintaan anak untuk bercocok tanam.
Kegiatan
bercocok tanam merupakan hal yang sangat menyenangkan untuk anak. Ada banyak
sekali manfaat yang bisa didapatkan dengan menggunakan pembelajaran bercocok
tanam ini. Aspek-aspek perkembangan anak khususnya dapat kita stimulus dengan
kegiatan ini. Biasanya anakpun akan merasa kerasan dengan kegiatan bercocok
tanam karena dilakukan anak dengan bermain. Sebagaimana yang sudah banyak
disebutkan bahwa diantara kebutuhan anak usia dini adalah bermain.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran untuk anak usia dini memegang
peranan yang sangat penting bagi pembentukan kemampuan dan sikap belajar pada
tahap yang lebih lanjut. Dalam suatu pembelajaran peran guru bukan semata-mata
memberikan informasi, melainkan juga mengarahkan dan memberi fasilitas belajar
(directing and facilitating the learning) agar proses belajar lebih
memadai. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Mohammad Ali (2007) bahwa
pembelajaran adalah upaya yang dilakukan guru dalam merekayasa lingkungan agar
terjadi belajar pada individu siswa.
Adapun pembelajaran itu sendiri harus
mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya minat anak yaitu bercocok tanam.
Pembelajaran in dapat menggunakan strategi pembelajaran berdasarkan area
ataupun sentra.
B. Saran
Sebagai
seorang guru, sudah sepatutnya kita memberikan hak anak. Diantaranya hak
bermain. Pendidikan anak usia dini memilki prinsip diantaranya belajar melalui
bermain dan bermain sambil belajar. Berbagai media dan alat main saat ini sudah
banyak yang guru bisa gunakan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak
usia dini. Akan tetapi, guru juga tidak boleh mengesampingkan kegiatan outdoor
yang tidak kalah penting dalm membantu meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan anak, diantaranya yaitu kegiatan bercocok tanam.