• Jelajahi

    Copyright © WAKATA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Al Quran dan Ilmu Pengetahuan

    Sabtu, 31 Januari 2015, 17.11 WIB Last Updated 2015-02-08T23:37:07Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Al Quran dan Ilmu Pengetahuan

    MUKADIMAH
    Sejarah umat manusia tidak pernah mengenaL satu umat pun yang begitu besar menaruh perhatian terhadap kitab samawi selain umat Muhammad. Dan nyaris tidak ada satu kitab suci yang mendapat perlindungan dan pemeliharaan, penghormatan dan pengagungan yang diperoleh Alquran sebagai mukjizat Muhammad yang abadi. 
    Alquran senantiasa memperoleh kedudukan yang tinggi serta derajat yang mulia.           
    Tidaklah mengherankan Alquran memperoleh status yang mulia tersebut, karena setiap peristiwa yang menyertai turunnya ayat-ayat kitab suci ini telah membuktikan bahwa Alquran merupakan ummul mu’jizat (induk semua mukjizat) bila dibandingkan dengan mukjizat para Nabi sebelumnya. Alquran adalah mukjizat yang terbesar, baik dari segi hidayah yang dikandungnya, pendidikan dan pengajarannya serta keunggulan perundang-undangannya.
    Allah telah mendukung para rasul-Nya dengan mukjizat yang mengagumkan, penuh keajaiban serta dalil-dalil nyata, hujjah dan bukti yang tidak dapat dibantah lagi, guna menyakinkan mereka bahwa mereka adalah utusan Allah, dan bahwa agama yang dibawanya bukan buatan mereka sendiri, melainkan benar-benar datang dari Allah swt.
    Secara khusus Allah telah menganugerahkan kepada nabi-Nya Muhammad saw. mukjizat yang agung, yaitu Alquran Karim sebagai cahaya Rabbani dan wahyu ilahi yang disampaikan kepada beliau melalui perantaraan malaikat jibril Alquran diungkapkan dalam bahasa Arab yang di dalamnya tidak terdapat penyimpangan dari kebenaran, sebagai pegangan bagi mereka yang ingin mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Diturunkan tidak hanya suatu umat atau untuk suatu abad, tetapi untuk seluruh umat manusia dan untuk sepanjang masa. Karena itu, keluasan ajaran-ajarannya sama dengan luasnya umat manusia.
    Ajaran-ajarannya begitu luas serta ditujukan kepada umat manusia dengan peri kehidupan yang bagaimanapun, kepada kaum yang masih primitif maupun kepada kaum yang telah mencapai peradaban modern dan kebudayaan yang tinggi, bagi seorang pertapa, orang yang tidak begitu mengindahkan harta, maupun bagi seorang usahawan, orang yang kaya maupun yang miskin, yang pandai maupun yang bodoh. Pada pokoknya untuk seluruh lapisan masyarakat, meliputi segala lapangan kegiatan manusia.
    Mukjizat yang diberikan kepada para nabi sebelum Muhammad saw. sangat beragam sesuai dengan jenis-jenis tantangan yang populer pada masa nabi yang bersangkutan, semuanya berupa mukjizat hissi (kongkret), tentara Fir’aun dengan menyebrangi laut yang telah terbelah dua, dan akhirnya Fir’aun bersama tentaranya karam dilautan.(Q.S. 26:45,  63, 64, 65, dan 66). Demikian pula mikjizat menghidupkan orang mati dan sebagainya yang diberikan kepada Nabi Isa a.s. (QS. 3:49).
    Mukjizat-mukjizat mereka hanya dapat disaksikan ketika nabi yang bersangkutan masih hidup. Berbeda dengan mukjizat hissi, maka Alquran merupakan mikjizat ma’nawi, yaitu mukjizat yang dapat dirasakan oleh mata hati dan dimengerti oleh fikiran, walaupun secara materi tidak dapat ditangkap oleh alat indera. Kemukjizatannya tidak haya berlaku ketika Nabi Muhammad masih hidup, tetapi setelah beliau wafat pun kemukjizatan itu masih dapat disaksikan oleh orang-orang yang tidak sezaman dengan beliau. Hal ini agar diketahui oleh orang-orang yang memiliki mata hati dan akal cerdas, sehingga mereka mendapat cahaya dari sinarnya dan faidah dengan hidayahnya untuk sepanjang masa. Nabi saw bersabda :
    مَا مِنَ الأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلاَ أُعْطِيَ مَا مِثْلهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ        
    Artinya: “Setiap nabi diberi mukjizat yang sama, yang dapat membuat manusia beriman kepadanya. Namun apa yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang disampaikan Allah kepadaku. Karena itu aku berharap semoga kiranya aku menjadi nabi yang paling banyak pengikut.” (H.R. Bukhari, Al-Itqan lV:311).
              Hadits di atas menunjukkan bahwa mukjizat para nabi sebelum Nabi Muhammad saw. akan musnah sejalan dengan perubahan waktu. Tidak ada yang dapat menyaksikannya kecuali orang-orang yang sezaman dengan nabi yang bersangkutan. sedangkan kemukjizatan Al quran akan abadi sampai akhir kiamat, yaitu dapat disaksikan oleh semua umat manusia sepanjang masa, karena memang Nabi saw. diutus oleh Allah untuk keselamatan manusia dimanapun dan kapanpun mereka berada, Sekalipun nabi Muhammad saw. telah meninggal, dimana setiap berita yang disampaikan Alquran itu pasti terjadi, dan pengakuan beliau sebagai rasul Allah adalah benar.
    Ibnu Hajar berkata; “Sesungguhnya kitab Allah itu mukjizat yang tidak akan dapat ditentang oleh siapa pun setelah Alquran menentang mereka dengan itu. Allah berfirman ; Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia, supaya sempat mendengar firman Allah...’ (QS. At-Taubah : 6). Maka kalaulah mendengar Alquran itu bukan alasan atas hal itu (diberi perlindungan), maka urusan tersebut tidak bergantung pada pendengaran Alquran. Dan mendengar Alquran tersebut menjadi alasan karena Alquran adalah mukjizat.”(Al-Itqan lV : 312).
    Kalau kita renungkan sistem dan jalinan Alquran, kita akan mendapatkan bahwa semua segi yang ditangani dan dikandungnya, berada dalam satu batas keindahan sistem dan keelokan susunan, tanpa perbedaan dan penurunan dari tingkat yang tinggi, Dengan demikian kita yakin Alquran adalah suatu hal diluar kemampuan manusia yaitu suatu mukjizat yang dapat dicapai alat indera, seperti tongkat yang diberikan kepada Nabi Musa a.s. yang dapat menelan semua ular yang didatangkan tukang-tukang sihir Fir’aun, dan dapat membelah laut, sehingga Nabi Musa dan kaumnya dapat menyelamatkan diri dari kejaran.

    BAB I
    KEDUDUKAN ALQURAN


    Sejak manusia diciptakan tidak terbilang kenikmatan yang telah diberikan Allah kepadanya. Demikian banyaknya kenikmatan itu sehingga tidak seorang pun yang dapat menghitung berapa banyak kenikmatan yang telah dianugerahkan Allah kepada dirinya. Orang yang miskin pun tentu menyadari limpahan nikmat itu karena hidupnya sendiri hanyalah pemberian Allah.
    Udara segar yang kita hirup setiap waktu, cahaya matahari yang menjadi sumber energi, terangnya bulan pada malam hari, gunung-gunung yang menjulang tinggi dengan kekayaan alamnya, air yang selalu mengalir untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia; itu semua adalah sebagian kecil dari nikmat-Nya. Demikian pula denyut jantung yang mengalirkan darah keseluruh tubuh, paru-paru yang selalu mengisap udara segar dan mengeluarkan udara kotor, ginjal yang senantiasa bekerja tanpa mengenal lelah; itu semua adalah anugerah ilahi, yang kesemuanya bekerja di luar pengawasaan kita.
    Di samping nikmat hissi (kongkret) yang tak kunjung habis seperti di atas, Allah juga memberikan nikmat maknawi (abstrak), berupa pedoman hidup, ajaran yang memberikan kenikmatan, ketentraman batin dan kepuasan jiwa, yaitu Alquran. Alquran adalah nikmat terbesar di antara sejumlah nikmat yang diberikan Allah kepada manusia.
    Qarun yang hartanya melimpah ruah, Fir’aun yang mempunyai kedudukan tinggi dan kekuasaan yang besar sebagai raja, di dalam Alquran dinyatakan sebagai orang yang tidak mendapat kenikmatan, karena mereka tidak memiliki pedoman hidup yang dapat menentramkan.
    Orang yang bertambah harta kekayaannya tentu bertambah pula rasa was-wasnya. Bertambah tinggi kedudukan seseorang, maka bertambah pula kecemasan dan kekhawatirannya. Lain halnya dengan di bidang agama. Semakin bertambah kuat seseorang dalam beragama, maka semakin bertambah kuat jiwanya. Akan lebih tabah dalam menghadapi pelbagai problematika kehidupannya.
    Sebagai bukti bahwa Alquran merupakan nikmat yang terbesar, kita dapat memperhatikan bagaimana bangsa Arab setelah memeluk Islam. Dalam waktu yang relatif singkat bangsa Arab menjadi bangsa yang maju, yang dapat mengungguli bangsa-bangsa lain yang ada di sekitarnya, yang dikenal sebagai bangsa adidaya pada masa itu.
    Setelah bangsa Arab memeluk agama Islam, berubahlah wajah kota Mekah dan Madinah. Semula sering terjadi pertentangan antar suku, terutama Aus dan Khajraj di Madinah. Kini mereka menjadi rukun dan damai. Mereka saling mencintai, bahu-membahu, tolong-menolong, penuh dengan rasa persaudaraan dan kesetiakawanan.
    Bangsa Arab yang sebelumnya pemabuk berat, di mana pemabukan bukan saja dilakukan oleh orang kaya dan kalangan elit melainkan juga oleh orang miskin dan kalangan alit (bawah). Ternyata dengan cahaya Alquran mereka mampu meninggalkan kebiasaan buruknya secara menyeluruh. Sementara bangsa lain belum mampu memberantasnya, padahal mereka menyadari bahwa hal itu merusakkan kesehatan.
    Kerajaan Roma dan Persia yang merupakan negara super power pada waktu itu, ternyata dalam waktu yang relatif singkat, keduanya tumbang dengan kekuatan Alquran. Sedangkan bangsa Arab yang semula jauh terbelakang, moralnya bejat, pendidikannya rendah, pemabuk, penuh dengan sengketa dan huru-hara ternyata menjadi bangsa yang maju, bernegara yang aman, berakhlakul karimah, berbudi luhur, penuh dengan kesetiakawanan dan rasa solidaritas yang kuat. Itu semua berkat ajaran dan didikan Alquran. Alquran membangkitkan kesadaran setiap insan. Mengikat dan mempersatukannya dalam satu kesatuan masyarakat. Membangun bangsa menjadi cerdas dan terdidik, sehingga melahirkan suatu peradaban umat manusia yang dilandasi moral yang tinggi seperti yang kemudian dikenal sebagai zaman keemasan Islam.


    BAB II

    FUNGSI ALQURAN

    Petunjuk Bagi Manusia

         Manusia, apa pun kedudukannya; rakyat atau pejabat, kaya atau miskin, pasti membutuhkan petunjuk untuk mencapai kebahagiaan hidupnya. Petunjuk mana yang mereka cari, mereka masih meraba-raba, mencoba, menyelidiki dan mencari-cari. Apakah harta yang banyak yang dapat memberikan kepuasaan hidupnya, atau kedudukan yang tinggi ? Ternyata keduanya tidak memberikan jawaban yang pasti.
         Banyak orang yang memiliki harta melimpah ruah, kedudukan yang tinggi, tetapi belum merasakan kebahagiaan hidup, belum memperoleh ketentraman batin, masih diselimuti rasa cemas.
         Tidak ada ajaran yang pasti dapat memberikan kenikmatan hidup kecuali ajaran dari Yang Maha Pencipta. Sebab, manusia tanpa Alquran bagaikan perahu tanpa haluan atau kendaraan tanpa rambu-rambu lalu-lintas. Kalau rambu-rambu jalan saja mutlak diperlukan, mengapa terhadap rambu-rambu jalan kehidupan manusia tidak memperhatikannya ?

    Alquran Mengangkat Derajat Manusia

         Orang buta tentu tidak dapat membedakan sesuatu dengan jelas. Ia tidak tahu jalan yang lurus, tidak dapat memilih sesuatu dengan yakin. Tidak mustahil ia salah pilih dan mudah tertipu.
         Manusia tanpa Alquran laksana orang buta. Ia tidak akan tahu halal dan haram; mana jalan yang membawa keselamatan dan kecelakaan. Ia tidak punya pedoman hidup. Pilihannya tidak pasti. Ia hanya dapat menilai sesuatu itu baik atau buruk dengan pertimbangan akal atau nafsu semata. Padahal pilihan akan tidak selamanya tepat dan membawa keselamatan, malahan seringkali petunjuk akal meleset, tidak sampai sasaran.
    Demikian juga dengan pertimbangan perasaan, belum tentu pilihannya tepat. Terkadang pilihannya bertentangan dengan akal, seperti penyembah berhala yang ia ukir sendiri. Ia buatkan hidung, tangan dan kakinya, kemudian dipuja dan disembah, bahkan takut celaka karena benda itu. Padahal berhala tidak bisa berbicara dan mendengar. Itulah bukti kerendahan martabat manusia tanpa Alquran.
    Alquran dengan ajarannya dapat mengangkat manusia dari lembah kehinaan menuju tempat yang terang, martabat yang mulia.

    Alquran Penuntun Ke Jalan Keselamatan

         Setiap orang mendambakan keselamatan, baik lahir maupun batin. Berbagai upaya ia tempuh. Berbagai jalan ia lalui. Berbagai cara ia coba. Namun sering kali meleset. Dikiranya jalan kebahagiaan, ternyata akhirnya menjadi penderitaan. Tetapi Alquran tidak diragukan lagi, karena datangnya dari Zat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, mustahil akan mencelakakan orang. Alquran justru membimbing manusia untuk mendapat keselamatan dalam hidupnya.

    BAB III
    KAJIAN TEORITIS TENTANG I’JAZ ALQURAN
     
    PENGERTIAN I’JAZ ALQURAN

    Al-I’jaz menurut bahasa artinya menisbahkan kelemahan pada orang lain, yaitu ketidak mampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kemampuan. Allah berfirman:

    أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي … -المائدة: 31-

    “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” (Q.s. Al-Maidah :31)
    sedangkan menurut istilah, kata al-I’jaz berarti “pengejawantahan kebenaran seorang nabi dalam menda’wahkan kerasulannya dengan memperlihatkan kelemahan orang-orang yang menentangnya”.
    Adapun kata Al-mu’jizat menurut Mana’ul Qathrhan adalah:
    أَمْرُ خَارِقٌ لِلْعَادَةِ مَقْرُوْنٌ بِالتَّحَدِّي سَالِمٌ عَنِ المُعَارَضَةِ
    “Suatu hal di luar kebiasaan yang disertai adanya tantangan dan selamat dari perlawanan.” (Mabahits fi ulumil quran, 1973:259).
    Keterangan-keterangan di atas menunjukan bahwa I’jaz Alquran mengandung pengertian pengejawantahan ketidak mampuan manusia, khususnya orang Arab, baik secara individu maipun secara kolektif, untuk menciptakan sesuatu yang lain yang serupa dengan Alquran.
    I’jaz Alquran tidak bermaksud untuk meremehkan potensi yang terdapat pada diri manusia, dalam arti memberi tahukah bahwa manusia tidak akan mampu menciptakan sesuatu yang membawa kemaslahatan hidupnya seperti yang akan dituju oleh Alquran, tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk memperlihatkan kebenaran Alquran serta membuktikan kebenaran pengakuan Muhammad bahwa bahwa dirinya adalah Rasul Allah. Demikian pula mukjizat yang diberikan kepada para nabi sebelum belaiu, tujuannya tiada lain kecuali memperlihatkan serta membuktikan kebenaran mereka. Di samping itu untuk menetapkan bahwa ajaran yang mereka bawa adalah wahyu dari Allah swt. mereka hanya mendapat tugas menyampaikan risalah Allah.
    Dengan pengertian ini, mukjizat berarti bukti-bukti yang nyata dari Allah kepada hamba-hamba-Nya melalui kebenaran para Rasul-Nya. Dengan perantaraan mukjizat ini, seolah-olah Allah hendak mengatakan, “Apa yang disampaikan oleh hamba-Ku adalah benar dari Aku, dan Aku telah mengutus agar dia menyampaikan hal itu kepada kalian. Sebagai bukti atas kebenarannya, Aku menganugrahkan kepadanya sesuatu hal di luar kebiasaan, yang tidak ada seorangpun di antara kalian mampu menandinginya.

    Karakteristik Penampilan I’jaz Alquran
    Al-I’jaz ditunjukan oleh adanya tiga karakter (ciri khas, sifat dasar) yang melekat pada dirinya.
    Mengandung tantangan
    Alquran merupakan tantangan bagi bangsa Arab pada khususnya, umat manusia pada umumnya yang mempunyai sikap dan pandangan yang keliru terhadap Alquran sebagai mukjizat yang dibawakan nabi yang ummi, yang tidak bisa membaca dan menulis. Beliau tidak mengenyam pendidikan formal atau mengikuti kegiatan keilmuan. Dalam tarikh (sejarah) tidak diperoleh keterangan beliau pernah belajar, menimba ilmu dari ulama atau ilmuwan; juga tidak pernah berhubungan denga ulama atau pendeta (akhbar dan ruhban) Yahudi dan Nasrani (Ahlul Kitab). Akan tetapi, beliau mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi dengan umat-umat terdahulu serta kisah-kisah para nabi sebelumnya seperti yang terjadi dalam Alquran itu.
    Beliau mendatangi mereka, membawa kitab yang mulia ini sebagai tantangan bagi mereka dengan mempergunakan ungkapan yang indah serta dialek yang sempurna, secara bertahap melalui dua bentuk:

    1. Tantangan secara umum

    Tantangan ini ditunjukan kepada seluruh manusia, baik orang Arab maupun non Arab, serta meliputi seluruh lapisan masyarakat, baik golongan awam maupun cerdik cendekia. Allah berfirman:
    قُلْ لَئِنْ اجْتَمَعَتْ الإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا. الاسراء :88.
    “Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia danjin bekerja sama untuk membuat yang serupa denga Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’.” (Q.s. Al-isra : 88)
    Sebenarnya tantangan tersebut hanya ditunjukan kepada manusia, tidak meliputi jin, karena jin tidak termasuk bangsa yang berbahasa Arab yang dalam gaya bahasa itu Alquran diturunkan. Jin disebut dalam ayat tersebut hanyalah untuk menunjukan keagungan atau betapa hebatnya kemukjizatan Alquran. Sebab andaikata jin dan manusia benar-benar saling membantu dan ternyata  semuanya tidak mampu menandinginya, maka apalagi salah satu golongan (baik manusia ataupun jin), keadaannya tentu tidak mampu lagi.(Al-Burhan fi Ulumil Quran, II : 111).

    2. Tantangan secara khusus
    Tantangan ini ditujukan kepada orang-orang Arab, khususnya kafir Quraisy.
    Tantangan ini ada dua macam :
    a. Tantangan kulli (memyeluruh)
    Tantangan kepada mereka dengan seluruh Alquran, baik dari segi hukum bahasa, seperti ushlubnya (gaya bahasa), fashahahnya            (ungkapan kata yang jelas), dan balaghahnya (kefasihan lidah). Allah berfirman :
    فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ { الطور : 34 }
    “Maka hendaklah mereka mendatangkan (membuat) sebuah hadis yang seperti Alquran itu jika mereka orang-orang yang benar.” (QS. Ath-Thur : 34).
    Yang dimaksud dengan hadis dalam ayat ini adalah bacaan yang seperti Alquran, yaitu adakanlah ‘Quran’ yang menyerupai Alquran yang dibawa oleh Muhammad kepada mereka.
    b. Tantangan juz’i (parsial, sebagian). 
    Tantangan kepada mereka dengan sebagian surat dari Alquran:   
    1.  Dengan sepuluh surat. Allah berfirman:
    أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنْ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ # فَإِلَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّمَا أُنزِلَ بِعِلْمِ اللهِ… -هود : 13-14.
    “Bahkan mereka mengatakan, ‘Muhammad telah membuat Alquran itu.’ Katakanlah, ‘(kalau demikian), maka adakanlah sepuluh surat yang direka-reka yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu dapat (memanggilnya) selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar. Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu itu, maka (katakanlah olehmu): ‘Ketauhilah, sesungguhnya Alquran itu diturunkan dengan ilmu Allah … “ (Q.s. Hud : 13-14)
    2.    Dengan satu surat. Allah berfirman:
    أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنْ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ . يونس: 38.
    “Atau (patutkah) mereka mengatakan,  ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah, ‘(kalu benar yang kamu katakan itu), maka cobalah adakan sebuah surat serupa itu dan bujuklah siapa-siapa yang dapat kamu bujuk (untuk membuatnya) selain Allah jika kamu orang-orang yang benar’.” (Q.s Yunus: 38)
    Tantangan ini disebutkan kembali dalam firman-Nya:
    وَإِنْ كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللهِ إِنْ كُنتُمْ صَادِقِينَ. البقرة : 23.
    “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat saja yang serupa dengan Alquran itu, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.” (Q.s. Al-Baqarah: 23).
    Ayat-ayat di atas merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan Alquran, dan Alquran tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastra dan bahasa, karena Alquran merupakan mukjizat Nabi saw. yang dapat dibuat hanya oleh Allah swt.
    Tantangan Alquran dalam bentuk-bentuk seperti di atas tidak bermaksud mengejek mereka, dan bukan pula untuk memperlihatkan kesombongan, tetapi bertujuan memberikan kesempatan kepada orang-orang yang masih meragukan kebenaran Alquran untuk berfikir. Dan jika mereka tidak mampu mengadakan sesuatu yang lain yang serupa dengan Alquran, sekalipun hanya satu surat yang pendek, maka mereka jangan terus-terusan tidak mempercayai Alquran dan menghalangi orang-orang yang hendak mempercayainya.
     
     Adanya penentang

    Nabi saw. datang kepada orang-orang Arab dengan membawa agama baru. Secara sembunyi-sembunyi beliau menyeru keluarganya yang tinggal dalam satu rumah, dan sahabat-sahabat beliau yang terdekat, orang per orang agar mereka meninggalkan agama berhala dan hanya menyembah Allah Yang Maha Esa. Setelah tiga tahun lamanya Rasul melakukan dakwah dengan cara seperti itu, maka mulailah beliau menyeru kaumnya secara umum di tempat-tempat terbuka untuk menyembah Allah dan mengesakan-Nya.
    Pertama kali seruan yang bersifat umum ini beliau tunjukan kepada kerabatnya sendiri, lalu kepada penduduk mekah umumnya, dan kemudian kepada kabilah-kabilah Arab dari berbagai daerah yang datang ke Mekah untuk mengerjakan haji.
    Dengan seruan yang bersifat umum dan terang-terangan ini, maka Nabi saw. dan agama yang dibawanya menjadi pusat perhatian dan pembicaraan ramai di kalangan masyarakat kota Mekah.
    Pada mulanya mereka menganggap gerakan Nabi Muhammad saw. itu tidak akan mendapat sambutan luas, tidak punya arah tujuan, serta akan bertahan sebentar saja. Karena itu, mereka bersikap acuh tak acuh serta membiarkannya. Tetapi ternyata gerakan Nabi terus meningkat, mendapat sambutan luas, pengikutnya makin bertambah banyak, dan seruannyapun bertambah tegas, jelas dan lantang. Beliau menunjukan kecamannya terhadap agama berhala kaumnya dengan mencela sesembahan mereka serta membodoh-bodohkan nenek moyangnya yang menciptakan dan sekaligus menyembah berhala-berhala itu.
    Ketika bangsa Quraisy melihat perkembangan gerakan Islam serta mendengar penghinaan dan pencelaan atas nenek moyang mereka serta berhala-berhalanya yang selama itu mereka puja; maka bangsa Quraisy pun mulai memberikan reaksi. Beberapa pemimpin Quraisy berkumpul untuk merundingkan cara-cara yang ditempuh untuk menghadapi Nabi. Antara lain diputuskan untuk mengutus Abul Walid, seorang sastrawan Arab yang tenar tiada bandingnya, agar menemui Nabi dan mengusulkan kepada Nabi untuk segera menghentikan gerakan dakwahnya.
    Kepada Nabi dijanjikan, bila mau menghentikan dakwahnya, akan diberi imbalan pangkat, harta, atau apa saja yang beliau inginkan. Mendengar usulan dan tawaran dari Abul Walid itu, Nabi membacakan surat (41) Fushilat dari awal sampai akhir agar didengar oleh Abul Walid. Abul Walid diam terpesona mendengar bacaan ayat-ayat Alquran itu. Ia termenung-menung menikmati keindahan gaya bahasanya; dan kemudian, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun sebagai tanda berpamitan, ia pergi meninggalkan Nabi dan kembali kepada kaumnya.
    Seperti halnya Abul Walid, demikian pula reaksi ahli syair dan ahli sastra lainnya dalam menghadapi tantanngan Alquran, mereka bungkam seribu bahasa, tidak berani tampil secara terbuka untuk menjawab tantagan Alquran. Memang ada yang berusaha membuat syair, meniru Alquran, akan tetapi mereka semuanya gagal. Dan kemudian mendapat cemoohan dan hinaan dari masyarakat.
    Cukuplah untuk diketahui bagaimana pengaruh Alquran terhadap sastrawan-sastrawan penentang Islam dan reaksi mereka terhadap tantangan-tantangan Alquran sendiri, karena pengakuan para penentang Islam adalah bukti yang nyata atas kebenaran I’jaz-nya kitab suci ini.

    c. Tidak ada penghalang untuk penentang

    Alquran diturunkan pada suatu masa yang telah disepakati yang pada masa itu adalah masa yang amat gemilang ditinjau dari segi kemajuan bahasa, dan pada masa itu banyak sekali terdapat ahli sastra dan ahli pidato arab. Alquran, yamg tidak dapat ditandingi itu oleh orang arab itu, sebenarnya tidak menyimpang dari aturan-aturan kalam mereka, baik lapazh dan huruf-hurufnya, maupun susunan dan uslubnya. Sejarah membuktikan, ahli-ahli bahasa terjun kedalam arena festival bahasa dan mereka memperoleh kemenangan. Tetapi tidak ada seorangpun diantara mereka yang mampu membuat satu gubahan yang seindah gubahan Alquran. Hal ini menjadi bukti bahwa ketidak mampuan mereka dalam menjawab tantangan Alquran itu bukan disebabkan Alquran menggunakan aturan-aturan bahasa yang tidak dikenali oleh mereka, melainkan karna Alquran itu sendiri adalah mukjizat dari Allah swt.

    DIMENSI-DIMENSI KEMUKJIZATAN ALQURAN

    Di dalam menantabg orang-orang Arab pada khususnya dan seluruh manusia pada umumnya Alquran menggunakan berbagai segi, lafziyyah, ma’nawiyyah, dan ruhiyyah. Setiap segi yang ada di dalamnya tidak dapat dicapai oleh kekuatan pikiran manusia dan benda di luar jangkauan kemampuannya, karena setiap kali Alquran di-tadaburi maka terasa lebih dalam dan luas makna ayat-ayatnya. Setiap kali rahaisa satu sisi Alquran diungkap, maka akan di dapati di balik sisi itu sisi-sisi lain dari kemukjizatannya. Hal ini menunjukan bahwa Alquran berasal dari Allah dan merupakan mukjizat Rasulullah saw. yang berlaku sepanjang masa.
    Kemukjizatan Alquran dapat dilihat dari dua segi, yaitu segi bahasa dan segi kandungan isi.
    A. Segi bahasa
    Kemukjizatan Alquran dari segi bahasa ini terletak pada fashahahnya, keserasian susunannya, dan keindahan uslubnya. Salah satu bukti ketinggian uslub Alquran ialah bahwa seluruh maksud Alquran itu bercampur baur dan terpencar dalam banyak surat, baik yang panjang maupun yang pendek, dengan munasabah (korelasi, hubungan, kaitan) yang berbeda-beda sehingga menjadi ‘ibarah (ungkapan) yang sempurna dan menyengakan hati. Mustahil manuisa dapat membuat susunan yang serupa dengan Alquran serta dapat menandinginya. Mukjizat Alquran dari segi bahasa ini hanya dapat dihayati oleh mereka yang mengetahui dan mendalami bahasa Arab. Sedangkan bagi yang tidak mengerti bahasa Arab, amatlah sulit untuk melacak di mana letak I’jaz ……………. Berada di luar kekuasaan manusia untuk mengetahuinya. Semua berita dan janji yang terdapat di dalam Alquran adalah benar dan telah menjadi kenyataan.
    2) Alquran telah memberikan landasan yang kuat dalam pertumbuhan hukum, bahkan Alquran tetap merupakan sumberhukum yang ideal hingga masa kini.
    3) Di dalam Alquran terdapat pula fakta-fakta ilmiah yang tidak mungkin diketahui manusia di tanah Arab pada masa itu, tetapi sekarang fakta-fakta tersebut dapat dijelaskan dengan tepat dan diakui kebenarannya.
    Demikianlah dengan ringkas dapat disimpulkan bahwa Alquran itu adalah mukjizat secara dzat-nya, yaitu dipandang dari segi bahasa dan kandungan isinya. Mukjizat ini akan kekal sepanjang masa karena Alquran telah dijamin keterpeliharaannya oleh Allah swt.

    BENTUK-BENTUK  I’JAZ ALQURAN

    A. I’jaz lughawi (aspek bahasa)

    Kemukjizatan Alquran dari segi bahasa tidak diragukan lagi, terbukti hingga kini tidak ada seorang pun yang dapat menandingi keindahan ushlub-nya. Kemukjizatan Alquran dari segi bahasa ini dapat dilihat dari beberapa aspek, di antaranya:

    1)  Keindahan susunan ayat-ayatnya 
    Alquran yang diturunkan selama lebih kurang 23 tahun, dan sebagian ayat-ayatnya diturunkan berdasarkan peristiwa dan latar belakang tertentu, ternyata rangkaian ayat-ayatnya bisa tersusun rapi secara sistematis, serasi, utuh dan tidak terdapat pertentangan. Keteraturan dan kesinambungan susunan membuat seseorang tidak akan menduga bahwa ayat-ayat …………… pisah dan terpotong-potong. Keindahan susunan Alquran meliputi:
    1. Kesesuaian antara ayat dengan ayat
    Setiap ayat dalam Alquran mempunyai kolerasi dengan ayat sebelumnya, seperti muqabalah (kata yang betolak belakang) antara sifat-sifat orang mukmin dengan sifat-sifat orang musyrik, ancaman bagi mereka dan janji bagi yang lainnya, ayat-ayat yang berkaitan dengan rahmat disebut setelah ayat-ayat yang berkaitan dengan azab, dan sebagaimana contohnya:
    a. Allah berfirman:
    فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلاَ وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ. التوبة : 82.
     “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.s. At-Taubah : 82)
    b. Allah berfirman:
    وَيُحِلُّ لَهُمْ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الْخَبَائِثَ… الأعراف : 157 
    “Menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka.” (Q.s. Al-A’raf : 157)
    c. Allah berfirman:
    بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ. الحديد : 13.
    “Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (Q.s. Al-Hadid : 13)
    d. Allah berfirman:
    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ # الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ. الفاتحة : 2-3.
    “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Al-Fatihah : 2-3).
    Imam  Alqurtubi berkata, “Allah swt. menyifati dirinya dengan ‘ar-rahman ar-rahim’ setelah ‘rabbul ‘alamin’. Karna didalam penyifatan diri-Nya dengan ‘rabbul ‘alamin’ terdapat tarhieb (peringatan) yang  di hubungkan dengan ‘ar-rahman ar-rahim’ karna terkandung didalamnya targhib (anjuran), supaya bersatu antara peringatan dari Allah dan dorongan kepada-Nya. Sehingga lebih membantu dalam menaati-Nya. (tafsir al-Qurthubi I: 139).

    2. Kesesuaian antara surat dengan surat

    Seperti surat-surat yang mengandung kata-kata ‘al-hamdu’ :
    a. Al-hamdu yang berkaitan dengan makan (tempat)
    contohnya:
    1.   Allah swt. berfirman:
    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ. الانعام : 1.
    “segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi…” ( Q.S Al-An’am:1)
    2.   Allah swt. berpirman:
    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ. سبأ : 1.
    “Segala puji bagi Allah Yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi…” (Q.s. Saba’ : 1)
    b. Al-hamdu sebagai pembuka Alquran. (Tafsir Ibnu Katsir I: 3).
    Contohnya:
    1.   Allah berfirman:

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ # الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ # مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. الفاتحة : 2-4

    “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang Menguasai hari pembalasan.” (Q.s. Al-Fatihah : 2-4).
    2.   Allah berfirman:
    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا. الكهف : 1.
    “Segala puji Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Alquran) kepada hamba-hamba-Nya…” (Q.s. Al-Kahfi : 1).

    3. Keserasian antara pembuka surat dan penutupnya

    Seperti surat (28) Al-Qashash : Surat ini diawali oleh kisah Nabi Musa yang menglami aneka cobaan dalam menghadapi kekejaman Fir’aun. Kemudian diakhiri dengan hiburan dari Allah kepada Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang selalu disakiti, diejek dan diusir oleh orang-orang musyrik Mekkah dengan menerangkan bahwa orang-orang yang beriman itu akan menerima cobaan atas keimanan mereka kepada nabi mereka seperti yang dialami oleh Nabi Musa dan Bani Israil.

    4, Kesesuaian kandungan suatu surat dengan surat yang lain. 

    Seperti persesuaian kandungan surat Quraisy dengan surat al-Ma’un.
    a.          Dalam surat Quraisy Allah menyatakan bahawa Dia membebaskan manusia dari kelaparan, maka dalam surat al-Ma’un Allah mencela orang yang tidak menganjurkan dan tidak memberi makan orang miskin.
    b.          Dalam surat Quraisy Allah memerintahkan manusia untuk menyembah hanya kepada-Nya, maka dalam surat al-Ma’un Allah mencela orang yang salat dengan lalai dan riya. 

    1. Keserasian bunyi huruf akhir (bersajak)

    a. Huruf-huruf yang sejenis, seperti:
    1.  (Q.s. Ath-Thur : 1-4)
    وَالطُّورِ. وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ. فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ. وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ. الطور : 1-4.
    2.  (Q.s. An-Nas : 1-6)
    قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ. مَلِكِ النَّاسِ. إِلَهِ النَّاسِ. مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ. الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ. مِنْ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ. الناس : 1-6.
    b. Huruf-huruf yang saling berdekatan, seperti:
    (Q.s. Al-Fatihah : 3-4)
    الرَّحْمَانِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ. الفاتحة : 3-4.
    Karena dekatnya huruf mim dan nun dalam akhir kata.
    c. Dua kata yang sama dengan wazan dan huruf-huruf sajaknya, seperti (Q.s. Al-Ghasyiah : 13-14):
    فِيهَا سُرُرٌ مَرْفُوعَةٌ. وَأَكْوَابٌ مَوْضُوعَةٌ. الغاشية : 13-14.
    d. Kata-kata yang sama dalam penggalan kalimat, seperti (Q.s. Al-Ghasyiah : 15-16):
    وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ. وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ. الغاشية : 15-16.

    2) Ketinggian uslub (gaya bahasa)-nya

    Para ulama sepakat bahawa Alquran memiliki uslub yang tinggi. Uslub Alquran memiliki keistimewaan yang tidak akan didapat pada omongan manusia.
    Di antara keistimewaan uslub Alquran ialah:
    1. keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya ketika mendengar harakat dan sukun-nya, madd dan gunnah-nya, washal dan saktah-nya, sehingga telinga tidak pernah meresa bosan, bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya.
    2. Keragaman khitab-nya (penggunaan kata-kata yang ditunjukan kepada orang-orang banyak), yang menyebabkan berbagai golongan manusia dengan berbagai tingkat intelektualitas dapat memahami kitab itu sesuai dengan tingkatan akalnya, sehingga masing-masing dari mereka memandangnya sesuai dengan tingkatan akalnya dan sesuai dengan keperluannya, baik mereka orang awam maupun kalangan ahli.
    3. Memuaskan akal dan menyenangkan perasaan, oleh karena Alquran dapat memnuhi kebutuhan jiwa manisia, pemikiran maupun perasaan, secara berimbang. Kekuatan pikir tidak menindas kekuatan rasa dan kekuatan rasa puntidak mematikan kekuatan pikir.
    4. Memiliki fashahah (ketetapan dalam pilihan kata, baik lafalnya, intonasi, dan sebagainya), serta mengandung balaghah. (kefasihan lidah) Fashahah dan balaghah Alquran ini memiliki beberapa bentuk, di antaranya:
    A). Majaz (kiasan), yaitu arti kata yang bukan sebenarnya.
    Contoh :
    a. Allah berfirman:
    وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آياتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًَا. الانفال : 2.
    “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya terhadap mereka, ayat-ayat itu  menambah iman mereka.” (Q.s. Al-Anfal : 2).
    Dalam ayat tersebut, kata ‘tambahan’ dinisbahkan kepada ayat, padahal semestinya dinisbahkan kepada iman orang mukmin yang bertambah kerana mendengar bacaan ayat-ayat tersebut. 
    b.  Allah berfirman:
    ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ. فصلت : 11.
        “Kemudian Dia menuju pada penciptaan langit, padahal (waktu itu masih berupa) asap (gas), kemudian Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah dengan kamu berdua dengan sukarela atau terpaksa!’ Keduanya berkata, ‘Kami berdua datang dengan sukarela’.” (Q.s. Fushilat : 11). 
         Lafaz qalata (keduanya berkata/menjawab) pada asalnya digunakan untuk yang berakal, tetapi ayat di atas digunakan untuk yang tidak berakal.
    c. Allah berfirman:

    حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنزِيرِ… المائدة : 3

    “Telah diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi …”. (Q.s. Al-Maidah : 3).
    Kata “babi” hanya disebut bagiannya saja, yaitu ……………….bagian lainnya, seperti kulitnya, tulangnya, dan lain sebagainya, menjadi halal, karena yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah seluruh anggota tubuh yang ada pada babi. Kata “daging” disebut secara khusus bertujuan untuk memberikan penjelasan bahwa bagian yang menjadi pokok untuk dimakan pada babi adala dagingnya. 
    B) Isti’arah (pinjaman), yaitu suatu lafaz yang digunakan tidak menurut arti asli.
         Contoh:
    1. Allah berfirman:
    وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا .مريم : 4.
    “Dan telah penuh uban di kepala (ku)” (Q.s. Maryam : 4).
    Lafazh “isyta’ala” dalam  ayat di atas adalah lafazh isti’arah, karena arti asalnya “menyala” untuk api bukan untuk uban. Namun karena uban itu terjadi sedikit demi sedikit, maka tak ubahnya seperti nyala api pada arang.
    2. Allah berfirman:
    وَالصُّبْحِ إِذَا تَنَفَّسَ. التكوير : 18.
        “Demi (waktu) shubuh apabila fajar mulai menyingsing”. (Q.s At-Takwir : 18).
         Lafazh tanaffas arti asalnya adalah “bernafas” atau “menarik nafas”. Karena terbitnya matahari itu berangsur-angsur, sedikit demi sedikit, maka tak ubahnya seperti orang yang sedang bernafas. 
    3. Allah berfirman:
    يَاأَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنْ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ. المائدة : 15.
        “Wahai Ahlul Kitab! Sungguh telah datang Rasul Kami kepadamu, menerangkan kepadamu sebagian besar isi kitab yang kemu sembunyikan, dan banyak yang tidak ia perdulikan. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dan kitab yang jelas dari Allah. “ (Q.s. Al-Maidah : 15).
        Lafazh nur dalam ayat ini adalah lafazh isti’arah. Lafazh nur arti asalnya adalah “cahaya”. Adapun yang dimaksud nur dalam ayat tersebut adalah Muhammad saw., karena beliau membawa hidayah yang dapat menuntun manusia dari kekufuran kepada keimanan, tak ubahnya seperti cahaya yang menyinari seseorang di tempat yang gelap.
    4. Allah berfirman:
    وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا. الكهف : 99.
        “Kami biarkan pada hari itu mereka bercampr baur dengan sebagian yang lain, kemudian ditiup sangkakala, lalu Kami mengumpulkan mereka itu semuanya.” (Q.s. Al-Kahfi : 99).
    Lafazh yamuju dalam ayat ini adalah lafazh isti’arah, sebab arti asalnya “bergelombang”. Lafazh tersebut asalnya digunakan untuk air laut, tetapi dalam ayat di atas digunakan untuk gelombang manusia pada hari kiamat. 
    5. Allah berfirman:
    وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ. الاعراف : 154.  
    “Dan ketika kemarahan Musa reda”. (Q.s. Al-A’raf : 154).
    Lafazh sakata adalah lafazh isti’arah, sebab arti asalnya ialah “diam” yang penggunaannya untuk ucapan atau perkataan, bukan untuk marah. 
    c). Tasybih (metafora), yaitu menunjukan adanya penyerupaan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain dari segi maksudnya.
    Contoh:
    a. Allah berfirman:
    مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ. -العنكبوت : 41-
        “Perumpamaan orang-orang yang menjadikan pelindung-pelindung selain Allah, tak ubahnya seperti laba-laba yang membuat rumah, padahal sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba, jika mereka mengetahui.” (Q.s. Al-Ankabut : 41).
    Ayat ini memberikan gambaran yang jelas bahwa peganggan orang-orang musyrik dalam beribadah kepada selain Allah itu adalah peganggan yang paling lemah. Mereka berusaha dengan mencurahkan segenap tenaga dan pikiran, akan tetapi mereka tidak akan memetik buah dari hasil usahanya itu. Ini tak ubahnya seperti usaha laba-laba yang membuat rumah atau sarang, padahal rumah yang dibuatnya itu sangat rapuh, tidak sesuai dengan jerih payah yang telah dikerahkan.
    b. Allah berfirman:
    مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لاَ يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ … -ابراهيم : 18-
    “Perumpamaan amal-amal orang yang ingkar kepada Tuhan mereka itu seperti debu yang diterbangkan angin kencang tatkala bertiup badai. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan.” (Q.s. Ibrahim : 18).
        Ayat di atas menceritakan amal usaha orang kafir yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun. Ini seperti debu yang diterbangkan angin kencang, tidak terdapat sisa sedikit pun. Maka amal orang kafir, walau pun secara lahiriah dinilai baik oleh manusia, tetapi di akhirat nanti tidak akan ada manfaatnya sama sekali.
    c. Allah berfirman:
    هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ. – البقرة : 187-
        “Mereka (istri-istri) itu (seperti) palaian untuk kamu (suami-suami), dan kamu (seperti) pakaian untuk mereka.” (Q.s. Al-Baqarah : 187).
        Ayat ini menyerupakan wanita dan pria seperti pakaian masing-masing. Kita tahu bahwa pakaian merupakan kebutuhan pokok atau primer. Setiap manusia menghajatkan pakaian. Demikian pula setiap orang membutuhkan pasangan dari jenis lainnya. Di samping itu bentuk modelnya pun sesuai dengan selera orang yang akan memakainya. Karena itu, dalam memilih dan menentukan jodoh tidak boleh dipaksakan selama tidak bertentangan dengan hukum Allah swt. Ditinjau dari sudut saling membutuhkan inilah Allah mengumpamakan pria dan wanita itu seperti pakaian.
    Ayat-ayat di atas diungkapkan dengan menggunakan tasyib, tiada lain bertujuan agar dapat memberikan gambaran yang jelas di samping untuk memberikan kesan yang mendalam di dalam jiwa pendengar atau pembacanya.
    D) Al-Iejaz, yaitu menggunakan lafazh ringkas yang memiliki banyak makna.
    Contohnya : Allah berfirman:
    وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ.   البقرة : 179.
    Ayat terebut diungkap dengan lafazh yang ringkas, tetapi mengandung makna yang luas, karena yang dimaksud ayat di atas ialah apabila seorang membunuh maka dia mengetahui kapan dia akan dibunuh. Ayat di atas menyuruh seseorang untuk menghindarkan diri dari pembunuhan. Karena pembunuhanakan menghilangkan kehidupan bagi dirinya (pembunuh) dan bagi orang lain (yang dibunuh). Dengan cara itu dia akanpanjang umur dan banyak turunan, sehingga masing-masing akan memperoleh manfaat dari kehidupannya.
    E) Al-Ithnab, yaitu menambah lafazh pada suatu makna untuk memberi tambahan faidah. Seperti:
    1. menyebutkan sesuatu yang khusus setelah yang umum. Contohnya :
     Allah berfirman:
    حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاَةِ الْوُسْطَى . البقرة : 238.
    Lafazh “shalat wushtha (ashar)” secara khusus disebut setelah salat-salat lainnya. Hal ini untuk menunjukan bahwa salat ashar memiliki keutamaan yang lebih dari satu segi bila dibandingkan salat-salat lainnya.
    2. Menyebut kembali lafazh yang telah disebut.
    Contohnya, Allah berfirman:
    كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ # ثُمَّ كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُونَ . التكاثر : 3-4 .
    Lafazh saufa ta’lamun disebut kembali setelah yang pertama, dengan maksud untuk memberikan rasa takut yang berlebihan terhadap kesalahan yang mereka lakukan.
    F) At-Taqdim (mendahulukan penyebutan suatu lafazh) dan At-Ta’khir (mengakhirkan penyebutan suatu lafazh).
    Contohnya, Allah berfirman:
    إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. الفاتحة : 5.
    Pada ayat di atas lafazh iyyaka didahulukan penyebutannya dari pada na’budu dan nasta’in, hal ini bertujuan untuk mengagunggkan Allah serta akan menjadi perhatian. Di samping itu untuk menekankan bahwa ibadah dan isti’anah itu khusus hanya kepada Allah, karena Allah mempunyai kekuasaan mutlak terhadapnya.

    B. I’jaz ‘Ilmi (aspek ilmu pengetahuan).

    Alquranul Karim sebagai mukjizat yang terbesar bagi Nabi Muhammad saw., amat dicintai oleh kaum muslimin, karena Alquran merupakan sumber petunjuk bagi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
    Sebagai Kitab Suci terakhir, Alquran bagaikan minatur alam raya yang mengisyaratkan muatan segala disiplin ilmu, Alquran merupakan Kalam  Allah swt. yang agung dan bacaan mulia serta dapat diuji kebenarannya oleh siapa saja, sekalipun akan menghadapi tantangan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin canggih.
    Karena kecintaannya kepada Alquran, dan untuk membuktikan kebenarannya, maka kurang lebih pada abad ke II hijriyyah para sarjana muslim telah berusaha dengan mengarang dan menerjemah berbagai macam buku ilmu pengetahuan, baik yang mengenai bahasa Arab, syariat, filsafat dan akhlak, maupun yang mengenai kesenian dan ekonomi.
    Adalah hal yang merupakan sangat mengagumkan bagi para sarjana dan ilmuwan yang bertahun-tahun melakukan penelitian menemukan keserasian ilmu pengetahuan hasil penelitian mereka dengan pernyataan-pernyataan Alquran dalam ayat-ayatnya. Setiap ilmuwan yang  menemukan bukti ilmiah tentang hubungan Alquran dengan ilmu pengetahuan akan menyuburkan perasaan yang melahirkan keimanan kepada Allah swt., dorongan untuk tunduk kepada kehendak-Nya dan pengakuan terhadap kemahakuasaan-Nya.
    Amatlah disayangkan, kebanyakan orang pada masa kini, khususnya para saintis, memiliki persepsi yang keliru tentang Alquran.mereka sangat berharap atau mengira Alquran mengandung segala teori ilmiah, sehingga setiap kali muncul teori baru mereka mengklaim teori tersebut sesuai sengan ayat Alquran. Dengan kata lain, mereka menafsirkan ayat Alquran berdasarkan teori ilmiah tersebut. dengan cara itu, selanjutnya mereka  mengira teori mereka mengandung kebenaran yang mutlak.
    Kekeliruan mereka timbul apabila mereka beranggapan bahwa ilmu pengetahuan atau sains bertujuan untuk menemukan kebenaran mutlak. Sesungguhnya segala pengetahuan bersifat sementara atau tentatif yang dapat berubah bila ditemukan data baru. Sains tidak dimulai dengan kebenaran mutlak. Sains adalah suatu metode analitis dan mengemukakan penemuannya dengan hati-hati. Tujuan sains yang sebenarnya ialah untuk memahami dunia ini melalui tiga tingkatan intelek (daya akal budi) yaitu melihat, bereksperimen dan berteori.
    Teori-teori ilmiah itu senantiasa berubah dengan sejalan perubahan kemajuan masyarakat.teori-teori tersebut selalu memiliki kekurangan, yang kadang-kadang diliputi oleh ketidak jelasan pada suatu waktu, dan kekeliruan pada waktu yang lain. Begitulah seterusnya sehingga mendekati kebenaran dan sampai pada tingkatan yakin. Hal ini karena teori apa pun pada awalnya berangkat dari asumsi dan hipotesis yang kemudian diadakan riset melalui eksperimen atau observasi, sehingga terbukti kebenarannya atau nyata kepalsuannya dan kekeliruannya. Oleh karena itu, teori-teori tersebut senantiasa mengalami perubahan dan pergantian dari waktu ke waktu.
    Dengan demikian, orang-orang yang menafsirkan Alquran berdasarkan data-data yang ditemukan sains, begitu pula orang yang berusaha keras menyimpulkan segala persoalan yang muncul dalam dunia sains berdasarkan Alquran, sebenarnya telah menyalahgunakan Alquran, meskipun mereka sendiri telah mengira berbuat kebaikan. Maka tafsir Alquran berdasarkan tafsiran-tafsiran mereka, boleh jadi mengandung keterangan-keterangan yang kontradiktif manakala kelak muncul pertemuan-pertemuan baru yang menyanggah teori-teori mereka.
    Sedangkan Alquran merupakan kitab yang mengandung akidah dan hidayah, yang menyeru hati nurani setiap orang. Untuk menghidupkan faktor-faktor perkembangan dan kemajuan, serta perangsang timbulnya kebaikan. Alquran merupakan wahyu Allah yang kebenarannya mutlak dan abadi. Alquran kita peroleh dari Nabi, bukan dari penggunaan akal seperti ilmu hitung atau dari eksperimen-eksperimen seperti ilmu kealaman. Sedangkan hasil-hasil penemuan ilmiah merupakan perwujudan dari proses pemikiran otak manusia yang kebenarannya relatif. Karena itu kebenaran wahyu tidak dapat diuji dengan kebenaran otak (ratio).
    Oleh karena itu, kemukjizatan ilmiah Alquran bukan karena Alquran memuat teori-teori ilmiah sebagai produk penelitian manusia yang selalu baru dan berubah, tetapi kemukjizatannya itu terletak pada dorongannya kepada manusia untuk berpikir dan menggunakan akal, yaitu Alquran mendorong manusia untuk memperhatikan alam raya dan men-taddabburi-nya. 
    Masalah apa pun atau teori yang bagaimana pun yang terbukti mendekati kebenaran serta bersifat tetap sepeerti 2x 2 = 4, merupakan manifestasi pemikiran valid yang dianjurkan Alquran. Berbagai disiplin ilmu terus bermunculan dengan beragam persoalan saling berganti, tetapi tidak ada satupun yang bertentangan dengan salah satu ayat dari ayat-ayat Alquran, dan inilah bentuk kemukjizatannya. Alquran menjadikan pemikiran yang tetap serta penelitian yang benar sebagai wasilah (sarana) terbesar untuk melahirkan keimanan kepada Allah swt. Alquran mendorong manusia meneliti segala apa yang ada dan apa yang  terjadi, mulai dari alam raya beserta seegala isinya, Allah berfirman:
    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاَ سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. ال عمران : 190-191.
    Ayat di atas merupakan perintah untuk semua manusia yang mempergunakan akal fikirannya, termasuk para ilmuwan dalam berbagai disiplin ilmu, untuk mendalami dan melakukan penelitian akan tanda-tanda kekuasaan Allah agar memiliki keyakinan dan pengakuan terhadap kemahakuasaan Allah swt.
    Demikian pula Alquran telah mendorong manusia untuk memikirkan tentang dirinya dan alam sekitarnya. Allah berfirman:
    1-    أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلاَّ  بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ.  الروم : 8.
    2-   وَفِي الأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ.  وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلاَ تُبْصِرُونَ. الذاريات :20-21.
    3-                 أَفَلاَ يَنْظُرُونَ إِلَى الإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ. وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ. وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ. وَإِلَى الأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ. الغاشية : 17-20.
    Begitu pula Alquran menganjurkan manusia menjadi ahli fikir, ilmuwan, dan cendikiawan. Di dalam Alquran terdapat lebih kurang 854 ayat yang menanyakan mengapa manusia tidak mempergunakan akal dan tidak bertafakur terhadap Alquran dan alam semesta, di antaranya:
    1-   كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ. البقرة : 219.
    2-   وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ. الحشر : 21.
    3-   كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ. يونس : 24.
    4-                   إنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ. الرعد : 3.
    Disamping itu Alquran akan mengangkat derajat orang Islam karena memiliki ilmu pengetahuan, Allah berfirman:
    1-   يَرْفَعْ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ. المجادلة : 11.
    Allah pun menyatakan perbedaan antara orang yang berilmu dan yang tidak berilmu, Allah berfirman: 
    1-                 هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الأَلْبَابِ. الزمر : 9.
    Di dalam Alquran Allah menghimpun isyarat segala disiplin ilmu, baik ilmu teknologi seperti pertanian, ilmu kedokteran, kebidannan, ilmu alam seperti falak, ilmu hewan, biologi lingkungan, ilmu tumbuh-tumbuhan seperti kehutanan, ilmu tanah, dan ilmu-ilmu ekstra lainnya, maupun ilmu-ilmu sosial seperti psikologi, dan sebagainya, tiada lain sebagai pendorong agar para saintis takut, tunduk, dan patuh kepada kehendak-Nya. Allah berfirman:
    أَلَمْ تَرَى أَنَّ اللهَ أَنْزَلَ مِنْ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنْ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ. وَمِنْ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ. فاطر : 27-28.
    Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.
    Demikian, sesungguhnya kemukjizatan Alquran dalam bentuk ilmu itu terletak pada dorongannya kepada kaum muslimin khususnyauntuk berfikir, melakukan penelitian serta menerima penemuan-penemuan baru yang relatif bersifat tetap yang muncul pada hari kemudian. Alquran bukan kitab ilmu falak, kimia, kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang diperoleh melalui penggunaan akal ataupun ekzperimen-eksperimen yang kebenarannya relatif. Meskipun begitu di dalam Alquran terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang diungkapkan dalam konteks hidayah seperti:
    1) Ilmu tumbuh-tumbuhan
    Allah berfirman:
    وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنْ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ  وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ. الحجر : 22.
         Selain kupu-kupu, kumbang, dan burung, anginlah yang mempunyai peranan untuk menerbangkan tepung sari dari bunga jantan menuju ke kepala putik pada bungan betina, dalam proses penyerbukan. Inilah proses perkawinan tumbuh-tumbuhan, karena tepung sari berfungsi sama dengan spermatozoa, sedangkan kepala putik berfungsi sama dengan sel telur. Proses perkawinan (penyerbukan) tumbuh-tumbuhan seperti di atas sudah lebih dulu diceritakan dalam Alquran dengan tepat.
    2) Ilmu bumi dan ilmu alam
    Allah berfirman:
    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللهُ مِنْ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ. البقرة : 164.
    1. Pada siang hari udara di darat terasa panas karena itu udara tersebut memuai (mengembang) sehingga karena tekanan udara berkurang, udara bergerak ke tempat yang relatif lebih renggang di darat. Sedangkan panasnya laut pada malam hari membuat udara di atas laut memuai (mengembang) sehingga karena tekanan udara di atas laut berkurang, maka udara bergerak ke tempat yang relatif lebih renggang di laut. Oleh karena itu, pada dini hari nelayan bertolak ke laut mencari ikan, mereka mengembangkan layar perahunya karena mengharapkan angin darat meniup mereka ke laut. Begitu pula seebaliknya, bila mereka hendak kembali pulang, mereka mengembangkan layar perahunya megharapkan angin laut menghantarkan mereka ke darat (siang hari).
    2. Perjalanan awan merupakan salah satu dari proses siklus air. Air yang berasal dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan, maupun dari alam sekitarnya seperti sungai, danau, kolam, got, selokan, parit, WC dan kamar mandi bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, sehingga pada akhirnya sebagian bisa sampai ke laut. Di tempat-tempat terbuka dan di lautlah air tersebut di panaskan oleh matahari hingga menguap ke udara. Uap air di udara berkumpul membentuk awan. Bersama angin gumpalan-gumpalan awan tersebut bergerak, dan oleh kelembabab tertentu,  di atas gunung atau hutan, berubah kembali menjadi bintik-bintik hujan.
    3. Silih bergantinya siang dan malam disebabkan keadaan bumi berotasi pada sumbunya. Apabila bumi tidak bulat ataupun bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka sebagian tempat di permukaan bumi sekalipun berada di khatulistiwa tidak akan mengalami pergantian siang dan malam.
    Semua peristiwa di atas dengan terperinci sudah diceritakan dalam Alquran.
    Demikian isyarat-isyarat ilmiah di dalam Alquran yang di urunkan dalam konteks hidayah Allah swt. Akal manusia diperbolehkan untuk mengkaji dan memikirkannya. Itulah salah satu bentuk kemukjizatannya Alquran dari segi ilmu pengetahuan.

    C. I’jaz tasyri’I (aspek penetap hukum).

    Allah telah menetapkan dalam diri manusia banyak gharizah (naluri) yang bekerja di dalam jiwa dan mempengaruhi kencenderungan-kecenderungan hidupnya. Jiak akal sehat dapat menjaga pemiliknya dari ketergelinciran, maka arus jiwa yang menyimpang akan mengalahkan kekuasaan akal, sehingga akal yang bagaimana pun tidak akan sanggup menahan luapannya. Oleh karena itu maka untuk meluruskan manusia diperlukan pendidikan khusus bagi gharizah-gharizah-nya, yang dapat mendidik, mengembangkan serta membimbingnya ke arah kebaikan dan keberuntungan.
    Umat manusi telah mengenal, di sepanjang sejarah, berbagai macam doktrin, pandangan sistem dan tasyri’ (pembentukan perundang-undangan) yang bertujuan tercapainya kebahagiaan individu di dalam masyarakat yang utama. Namun tidak ada satu pun dari padanya yang mencapai keindahan dan kebesaran seperti yang dicapai Alquran dan kemukjizatan tasyri’nya.

    1) Pendidikan individu

    Alquran memulai dengan pendidikan individu, karena individu merupakan batu bata masyarakat, dan menegakan pendidikan individu itu dengan cara penyucian jiwa dan rasa pemikulan tanggung jawab. Alquran menyucikan jiwa manusia dengan akidah tauhid yang menyelamatkannya dari kekangan khurafat dan takhayyul, serta memecahkan belenggu perbudakan hawa nafsu dan syahwat, agar ia menjadi hamba Allah yang ikhlas dan hanya tunduk kepada Tuhan.
    Apabila akidah seorang manusia telah benar, maka ia wajib menerima segala syariat Alquran baik menyangkut kewajiban mu’amalah maupun ibadah. Setiap ibadah yang difardlukan dimaksudkan untuk kebaikan individu, dan di samping itu ibadah pu erat kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat. Ibadah fardlu tersebut seperti:
    1. Salat, mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Orang yang salat sendiri juga tidak akan terlepas dari perasaan adanya ikatan batin antara dirinya dengan umat Islam di seluruh penjuru bumi dari utara sampai selatan, dan dari barat hingga timur, sebab ia tahu pada saat itu ia seddang menghadap kesatu arah bersama seluruh muslam di muka bumi menunaikan kewajiban salat, menghadap kesatu kiblat danberdo’a dengan satu macam do’a, sekalipun tempat tinggal mereka berjauhan.
    Cukuplah sebagai pendidikan seorang muslim, bahwa iaberdiri di hadapan tuhan nimimal sebanyak lima kali dalam sehari semalam, sehingga dengan demikian kehidupannya perpadu dengan syariat Allah dan sadar bahwa pengontrol tertinggi senantiasa memperhatikan segala apa yang terjadi di antara satu salat dengan yang lainnya. (Q.s. 29: 45)
    اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ الْكِتَابِ وَأَقِمْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ. العنكبوت : 45.
    2. Zakat, mencabut dari dalam jiwa akar-akar kekikiran, pemujaan harta dan keerakahan akan dunia. Dengan demikian, ia merupakan kemaslahatan bagi masyarakat, karena ia menegakanpilar-pilar kerja sama di antara orang kaya dengan orang miskin dan menyadarkan jiwa akan pentingnya solidaritas sosial yang mengeluarkan jiwa dari kesempitan rasa cinta dan kesendirian.
    3. Shaum, mengekang jiwa, menguatkan tekad, mengokohkan kehendak, dan menahan syahwat. Ia merupakan fenomena sosial yang di dalamnya kaum muslimin hidup sebulan penuh dalam satu sistem dalam waktu makan mereka, sebagaimana satu keluarga hidup dalam satu rumah.
    4. Haji, adalah perjalanan yang dapat menghibur jiwa dari kesulitan dan membukakan mata hati terhadap rahasia-rahasia Allah dalam makhluk-Nya. Haji merupakan muktamar internasional yang di dalamnya kaum muslimin bertemu dalam satu tempat, sehingga mereka dapat saling mengenal, bermusyawarah dan bertukar pikiran.
    Penunaian ibadah-ibadah fardlu ini akan mendidik manusia untuk menyadari tanggung jawab individual sebagaimana ditetapkan Alquran dan untuk mamikul semua beban agama dan akhlak mulia. (Q.s. 74: 38, 52: 21, 2: 286).
    1.     كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ. المدثر : 38.
    2.     فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ. الحاقة : 21.
    3.          لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ  تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. البقرة : 286.
    2) Pendidikan keluarga
    Dari perndidikan individu, Alquran mengarahkan pada pembangunan keluarga, karena keluarga benih masyarakat. Maka disyariatkan perkawinan untuk memenuhi gharizah seksual dan memelihara kelangsungan hidup jenis manusia dalam keturunan suci dan berwibawa.
    Ikatan keluarga dalam perkawinan ditegaskan atas dasar cinta kasih, ketentraman jiwa, dan interaksi yang baik serta memelihara interdepedensi suami dan istri, tugas dan fungsi yang  sesuai dengan masing-masing. (Q.s. 30: 21, 4: 19, 4: 34).
    1-                 وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ. الروم : 21.
    2-         يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلاَّ أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا. النساء : 19.
    3-         الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا. النساء : 34.
    3) Pendidikan masyarakat
    Kemudian datanglah sistem pemerintahan yang mengatur masyarakat Islam. Alquran telah menetapkan kaidah-kaidah dasar dalam bentuk yang paling ideal dan baik, yaitu suatu pemerintahan yang didasarkan asas musyawarah, persamaan dan larangan kekuasaan individual. (Q.s. 3: 159, 4: 38, 49: 10, 3: 64)
    1-         فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنْ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ. ال عمران : 159. 
    2-                 وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. الشورى : 38.
    3-                 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. الحجرات : 10.
    4-         قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ. ال عمران : 64.
    Ia adalah pemerintahan yang ditegakkan atas keadilan mutlak yang dipengaruhi rasa cinta diri, cinta kerabat atau faktor-faktor sosial yang berhubungan dengan kekayaan dan kemiskinan (Q.s. 4: 135).
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنفُسِكُمْ أَوْ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلاَ تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا. النساء : 135.
    Demikian pula keadilan tidak boleh dipengaruhi rasa dendam terhadap musuh yang dibenci (Q.s. 5: 8, 4: 58).
    1-         يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. المائدة : 8.
    2-                 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا. النساء : 58.
    Otoritas legislatif dalam pemerintahan Islam tidak diberikan atau diserahkan kepada manusia, melainkan kepada Alquran, dan penyimpangan dari padanya berarti kafir, zalim dan fasik (Q.s. 5: 44, 5: 47, 5: 50)
    1-         إِنَّا أَنزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلاَ تَخْشَوْا النَّاسَ وَاخْشَوْنِي وَلاَ تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلاَ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْكَافِرُونَ. المائدة : 44. 
    2-                 وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ. المائدة : 47.
    3-                 وَلْيَحْكُمْ أَهْلُ الإِنجِيلِ بِمَا أَنزَلَ اللهُ فِيهِ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنزَلَ اللهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ. المائدة : 50.
    Alquran juga telah menetapkan perlindungan terhadap lima macam kebutuhan primer bagi kehidupan manusia, jiwa, agama, kehormatan, harta benda dan akal, dan menerapkan padanya hukum-hukum yang pasti yang didalam fikih Islam dikenal dengan jinayat dan hudud (pidana). (Q.s. 2:179, 24:2, 24: 4, 5:38).
    1-                 وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُوْلِي الأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. البقرة : 179.
    2-         الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ وَلاَ تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللهِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ. النور : 2.
    3-                 وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلاَ تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْفَاسِقُونَ.  النور : 4.
    4-                 وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِنْ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ. المائدة : 38.
    Alquran menetapkan pula hukum internasional, dalam masa perang maupun damai, antara kaum muslimin dengan tetangga atau dengan mereka yang mengadakan perjanjian damai. Dan apa yang ditetapkan Alquran ini merupakan sistem hubungan, mu’amalah, paling tinggi dikenal pada masa peradaban umat manusia.
    Ringkasnya, Alquran merupakan dutsur tasyri’i paripurna yang menegakkan kehidupan manusia di atas dasar konsep yang paling utama. Dan kemukjizatan tasyri’i-nya ini bersama dengan kemukjizatan ‘ilmi (ilmiah) dan kemukjizatan lughawi (bahasa) akan senantiasa eksis untuk selamanya. Dan tidak seorang pun dapat mengingkari bahwa Alquran telah memberikan pengaruh besar yang dapat mengubah wajah sejarah dunia.


    PENUTUP

    PERANAN KORPRI DALAM MEMASYARAKATKAN ALQURAN GUNA TERWUJUDNYA SUMBER DAYA MANUSIA YANG BERKUALITAS

    A. Pembangunan Fisik harus Diimbangi dengan Pembinaan Mental Spiritual

    Manusia adalah ciptaan Allah swt. yang secara garis besarnya terdiri dari dua unsur, yaitu khalq (wujud, tubuh, fisik) dan khukuq (akhalaq, moral, budi pekerti). Aturan Allah terhadap sesuai dengan keadaan manusia itu sendiri yang tersusun dari dua unsur, fisik dan moral, sehingga tercipta manusia paripurna, insan kamil manusia yang tahu tugasnya.
    Fisik dan moral merupakan dua unsur yang tidak dapat dan tidak boleh dipisahkan, karena manusia tanpa moral bukanlah manusia paripurna. Oleh karena itu, pembangunan suatu negara dalam bentuk sektor kehidupan pasti tidak akan mengalami kegagalan bilamental para pembangunnya, msnusia yang membangunnya disempurnakan terlebih dahulu melalui pembinaan moral dan penyuluhan budi pekertinya. Sebab bagaimanapun kuat dan kokohnya suatu bangunan pada akhirnya akan mengalami kehancuran bila para penghuninya terdiri atas manusia yang berakhlak rendah dan amoral. Apabila negara yang sedang membangun, bila ia dibangun oleh tangan-tangan kotor dan bejat moral, maka negara tersebut akan hancur sebelum berdiri kokoh.
    Tepat sekali apa yang dinyatakan oleh kepala negara kita bahwa mengembangkan nilai-nilai agama merupakan suatu keharusan guna memperbaiki dan meningkatkan moral masyarakat. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa pembangunan fisik tanpa diimbangi dengan pembinaan moral dan mental spiritual akan berakibat terjadinya kepincangan dalam kehidupan bermasyarakat, ketenangan lahir dan batin serta ketentraman hidup tidak akan dapat terwujud, sehingga cita-cita untuk membangun bangsa yang maju tidak akan pernah tercapai, karena pembanguna itu sendiri justru akan mengalami kehancuran bila ditangani oleh manusia-manusia yang berakhlak rendah dan bermoral bejat. 
    Di samping itu, kemajuan akibat pembangunan diberbagai sektor kehidupan akan melahirkan berbagai dampak yang perlu diwaspadai. Yang dapat kita lakukan adalah mengurangi dampak negatif dari perubahan tersebut dengan cara memasyarakatkan Alquran melalui pembinaan mental masyarakat, khususnya anggota KORPRI. Dalam upaya ini, KORPRI mempunyai peranan yang cukup besar.

    B. Pembinaan Potensi Umat Islam

    Jumlah umat Islam di dunia lebih dari 1,2 miliar. Dimanakah mereka berada? Sungguh keliru jika menyangka umat Islam terbanyak berada di negara-negara Arab. Tidak, sama sekali tidak, karena sebenarnya umat Islam terbanyak justru di Indonesia, yakni 142 juta manusia. Apabila umat Islam sebesar itu tidak dibina sebaik mungkin dengan moral Qurani, hampir dapat dipastikan umat Islam berada dalam kejahilan yang dapat melahirkan prilaku buruk, sehingga dapat menghambat keberhasilan pembangunan nasiaonal.
    Untuk mengantisipasi keadaan ini, yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya anggota KORPRI, sehingga pemahaman terhadap Alquran dirasakan sebagai refleksi kebutuhan hidup. Dalam hal ini peranan KORPRI dinilai sangat strategis, yaitu sebagai mitra pemerintah untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berimtak (iman dan takwa), berakhlak mulia cerdas, terampil, dan bertanggung jawab untuk menyongsong era globalisasi demi kejayaan bangsa dan negara.

    C. Pemberantasan Buta Huruf Alquran

    Di muka telah disinggung bahwa menurut data dari Departeman Agama RI 70% siswa SD sampai SLTA tidak mampu membaca Alquran. Rendahnya kemampuan membaca Alquran ini tidak terlepas dari sikap masyarakat terhadap Alquran serta adanya opini bahwa membaca Alquran itu sulit. Di samping itu adanya persepsi bahwa belajar Alquran itu mesti di pesantren, madrasah atau majlis-majlis taklim saja. Dengan anggapan yang pesimis ini mengakibatkan orang-orang merasa malas mempelajari Alquran.
    Sebagai upaya untuk memberantas buta huruf Alquran, maka peras serta KORPRI, dalam hal ini bagian pembinaan (BAGBIN) Agama, baik melalui penataran-penataran, kursus-kursus maupun penyebaran informasi yang jelas –salah satunya dalam bentuk buku- prihal Alquran kepada masyarakat, khususnya anggota KORPRI, setidaknya akan menipis anggapan bahwa belajar Alquran itu sulit, sekaligus dapat membuktikan bahwa mempelajari Alquran itu dapat dilakukan di berbagai tempat, seperti di Sekretariat KORPRI.

    Alquran dan Ilmu Pengetahuan

             
         Alquranul Karim dan Sunnah Nabi Muhammad saw. merupakan induk dari sekian banyak disiplin ilmu agama. Ilmu ini pernah menjadi mahkota ilmu-ilmu keislaman pada masa keemasan Islam.
         Bila ditinjau dari segi karakteristiknya ilmu keislaman dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian:
    Pertama: Ilmu yang telah “matang tetapi belum terbakar”, seperti nahwu dan ushul fiqih.
    Kedua: Ilmu yang “belum matang dan belum pula terbakar”, seperti sastra dan tafsir.
    Ketiga: Ilmu yang “telah matang dan terbakar pula”, seperti fiqih dan hadis.
         Ilmu fiqih dan ilmu hadis dikatakan matang dan terbakar karena kedua ilmu ini begitu banyak dibahas oleh para ulama, dan istilah-istilah yang digunakan begitu beragam; sehingga tidak jarang setiap ulama mempunyai pengertian yang berbeda dengan ulama lain, walaupun istilah yang digunakan sama.
         Sementara itu bila dilihat dari sisi maudhu (pokok bahasan), ilmu-ilmu pada masa keemasan Islam dapat digolongkan menjadi empat, yaitu:
    1.Ilmu Bahasa Arab.
    2.Ilmu Syariat.
    3.Sejarah.
    4.Al-hikmah dan Filsafah (ilmu-ilmu selain bahasa dan agama).

    Ilmu Bahasa Arab
    Ilmu bahasa ini terdiri dari beberapa ilmu, diantaranya: Ilmu Nahwu, ilmu Sharaf, ilmu balaghah dan ilmu bahasa.
    a. Ilmu Nahwu dan Sharaf.
         Ilmu Nahwu ialah ilmu yang mempelajari gramatika bahasa Arab. Dengan ilmu tersebut bahasa Arab itu dapat dipelajari dengan baik dan benar oleh ummat yang tidak berbahasa Arab. Sehingga mereka terhindar dari kesalahan-kesalahan pengucapan dan dapat membaca dengan fasih.
    Ilmu ini dirintis penyusunannya oleh Abdul Aswad Ad Duali atas nasehat Ali bin Abi Thalib.
    b. Balaghah
    Ilmu Balaghah mencakup Ilmu Bayan, Ma`ani dan Badi`. Yaitu ilmu yang menjelaskan keistimewaan dan keindahan susunan bahasa dan segi-segi i’jaz Alqur`an. Ilmu ini disusun setelah selesai dikarang Nahwu dan Sharaf.
         Kitab yang pertama kali disusun  dalam ilmu Bayan ialah Kitab Majazul Qur`an oleh `Ubaidah, murid Al Khalil. Kemudian diikuti oleh beberapa ulama.
    c. Ilmu Bahasa
    Untuk memelihara pengertian kata-kata dalam Alqur`an mereka mengarang kamus bahasa Arab. Pada mulanya kamus ini hanya merupakan kitab-kitab kecil yang mengupas bermacam-macam kata, seperti kata-kata yang berhubungan dengan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda.
    Ilmu Syari`at
         Ilmu Syariat terdiri dari beberapa cabang ilmu pengetahuan di antaranya: Tafsir, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Sejarah dan lain-lain.
    a. Tafsir
    Tafsir, yaitu cara untuk memahami ayat-ayat yang kurang jelas (mutasyaabihaat). karena di dalam Alqur`anul Karim ada ayat-ayat yang muhkamaat (terang dan jelas artinya) dan ayat-ayat yang mutasyaabihaat (Kurang jelas artinya atau dapat ditafsirkan). Para sahabat dalam memahami ayat Alqur`an itu mempunyai pendapat yang berlainan, karena perbedaan cara memahaminya, seperti perbedaan tentang yang dimaksud shalatul Wustha.
    b. Hadis dan Mushthalah Hadits.
    Hadis mempunyai nilai yang tinggi sesudah Alqur`anul Karim, karena banyak ayat-ayat Alqur`an yang dikemukakan secara umum dan memerlukan perincian. Maka ayat-ayat itu tidak dapat difahami maksudnya dengan jelas dan terperinci kalau tidak berpedoman kepada hadis-hadis. Sedangkan Mushthalah Hadits ialah satu ilmu yang mempelajari tentang kedudukan-kedudukan hadis-hadis tersebut. Karena ternyata ada hadis-hadis palsu yang diriwayatkan oleh orang-orang Yahudi dan Zindiq, maka untuk menyaring mana hadits yang shahih mana hadits yang palsu, dipergunakanlah ilmu Mushthalah hadits ini.
    c. Fiqh dan Ushul Fiqh.
    Alquranul Karim dan hadits-hadits menguraikan masalah pokok secara garis besar dan tidak mencakup semua masalah yang timbul kemudian, karena masalah-masalah itu tidak akan habis-habisnya sesuai dengan kemajuan dalam segala lapangan kehidupan. Tentu saja ada masalah baru yang belum pernah terjadi di masa Rasulullah saw. Untuk menetapkan suatu hukum dalam masalah yang baru itu, para ulama ber ijtihad dengan mendasarkan ijtihad mereka itu kepada Alquran, Sunnah dan Ijma Shahabat.
    Dalam berijtihad untuk menetapkan sesuatu hukum, haruslah mengetahui cara-cara mengistinbatkan untuk mengambil kesimpulan mengenai hukum itu dari ayat-ayat Alquran dan hadits-hadits. Cara ini mula-mula disusun oleh Imam Syafii dalam kitabnya yang bernama Ar Risalah. Ilmu ini kemudian dikenal dengan ilmu Ushul Fiqh.
    d. Ilmu Sejarah.
    Para ulama Islam banyak menulis sejarah, karena di dalam Alquran banyak terdapat  kisah-kisah orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Disamping itu terdapat pula hal-hal mengenai kejadian-kejadian yang penting dalam umat Islam, seperti perang Badar, Uhud, Perdamaian Hudaibiah dan lain-lain. Kisah-kisah mengenai kejadian -kejadian tersebut terdapat pula dalam hadits-hadits Nabi.
    Diantara penulis-penulis sejarah yang termasyhur ialah: Abu Mikhnaf bin Yahya, Saif bin Umar Al-Kufi, Ali bin Muhammad Al-Madani dan Zubair bin Bakkar.
    Al-Hikmah dan Filsafat.
         Al-Hikmah dan filsafat pada pokoknya mengandung empat macam ilmu, yaitu: Ilmu Manthiq, Ilmu Alam, ilmu Pasti dan Ilmu Ketuhanan. Termasuk Ilmu Alam itu, ialah Ilmu Kimia, Ilmu Kedokteran, Pharmasi, Ilmu hewan dan Ilmu Pertanian. Yang termasuk Ilmu Pasti ialah berhitung, Al-Jabar, Ilmu Ukur, Ilmu Mekanika, Ilmu Falak dan Geoerafi. Termasuk Ilmu Ketuhanan ialah: Metafisika yaitu pembahasan mengenai Pencipta jiwa, jin, Malaikat dan sebagainya.
         Mereka yang mempelajari ilmu-ilmu tersebut karena dorongan Alquran yang menganjurkan supaya mereka menuntut ilmu, dan karena di dalamnya terdapat hubungan dengan ilmu-ilmu tersebut.
         Yang mengenai ilmu Falak di antaranya seperti tersebut dalam (QS. Yunus ayat 5:)
    هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الأ يَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ(5)
    Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciftakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.
    (Qs. Yunus:5)
    .
         Yang mengenai Ilmu Hewan terdapat dalam surat An-Nahl ayat 66:
    وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ(6)
    Artinya: “Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelaaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada pada perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang hendak meminumnya”.
        
         Yang mengenai Ilmu tumbuh-tumbuhanterdapat dalam (Qs. Ar-Ra`d ayat 4:)
    وَفِي الأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(4)
    Artinya: “Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berpendampingan dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama, kami melebihkan sebahagian tanaman-tanaman itu atas sebahagian yang lain, tantang rasa (dan bentyknya). Sesungguhnyalah bada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (Kekuasan Allah) bagi kaum yang berfikir.
         Yang mengenai Ilmu Bumi dan Ilmu Alam terdapat dalam (Qs. Qaaf ayat 7-8)
    وَالأَرْضَ مَدَدْنَاهَا وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ(7)    تَبْصِرَةً وَذِكْرَى لِكُلِّ عَبْدٍ مُنِيبٍ(8)
    Artinya: “Dan kami hamparkan bumi itu dan kami letakan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata. Untuk menjadi peringatan bagi hamba yang kembali (mengingat) Allah”.

         Yang mengenai jiwa terdapat dalam (Qs. Qsy-Syams ayt 7-10:)

    وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7)  فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8)  قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا(9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)
    Artinya: “Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya). Maka Allah meng ilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya.

         Dari uraian-uraian di atas dapat kita nyatakan bahwa kegiatan-kegiatan para ulama Islam dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan baik agama maupun umum adalah karena:
    1.Alquran sendiri menganjurkan supaya manusia memperdalam ilmu pengetahuannya dalam pelbagai ilmu pengetahuan
    2.Ayat-ayat Alquran banyak menyinggung persoalan-persoalan ilmiah walaupun secara garis besarnya saja. karena itu para ulama ingin membuktikan kebenaran ayat-ayat itu dengan menyelidikinya secara mendalam.
    3.Rasa tanggung jawab para ulama terhadap pemeliharaan, penyiaran Alquran mendorong mereka untuk menciptakan dan menyusun ilmu bahasa Arab dan bermacam-macam ilmu yang berhubungan dengan itu.




    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    NamaLabel

    +